Belajar Politik di Amerika

2014-08-18 16.17.28Judulnya Pengalaman Belajar di Amerika Serikat karya Arief Budiman. Inilah buku yang pertama saya baca begitu tiba di NIU. Saya tak pernah tahu Arief Budiman pernah menulis buku itu. Iqra Anugrah, kandidiat doktor ilmu politik NIU, yang beritahu saya. Isinya bisa diduga: suka duka Arief Budiman belajar di Amerika.

Buku itu bisa saya dapat di perpustakaan NIU karena kampus ini punya Center for Southeast Asian Studies. Ini adalah salah satu pusat studi Asia Tenggara di Amerika yang masih aktif. Karena itu, di perpustakaan NIU terdapat koleksi khusus Asia Tenggara, termasuk karya-karya tentang Indonesia atau ditulis oleh orang Indonesia. Contohnya buku Arief Budiman yang terbit tahun 1991 itu.

Saya baca buku itu memang dengan niat untuk penyemangat. Maklum, baru sampai Amerika. Masih gegar budaya. Gampang bingung, takjub, juga sedih. Memulai hidup baru sebagai mahasiswa. Berpisah untuk sementara waktu dengan keluarga. Dan yang lebih penting, hidup di lingkungan serba baru. Berbeda nilai-nilai, tradisi, dan budaya.

Cerita tentang suka duka belajar di Amerika sudah sering saya dengar. Senior saya di UIN Ciputat seperti Ali Munhanif, Saiful Umam, Jajang Jahroni, dan Dadi Darmadi pernah belajar di Amerika. Dari mereka saya jadi tahu lika-liku kuliah di Amerika: ketat dan menantang. Tapi itu baru cerita.

Kini saya mulai merasakannya sendiri.

Cerita mereka, ditambah kisah Arief Budiman, baru memberikan gambaran awal. Karena itu perasaan saya masih campur aduk. Gampangnya, masih “ngeri-ngeri sedap.”

Setidaknya kini saya sudah di Amerika. Bukan lagi sebatas mimpi. Dan USAID, pemberi beasiswa saya, memberi orientasi tiga hari di Washington, D.C., ibukota Amerika. Benar kata orang, kota ini memang indah dan tertata. Taman, gedung bersejarah, dan monumen yang megah menghiasi tiap jengkal kota ini. Selain pusat pemerintahan, ini adalah kota wisata. Awal yang sedap untuk calon mahasiswa.

Tapi, kehidupan mahasiswa yang sesungguhnya baru benar-benar dimulai ketika menginjakkan kaki di kampus NIU. Meski sudah dapat orientasi baik di Jakarta maupun waktu baru tiba di Amerika, tetap saja itu tak cukup. Pelatihan bahasa Inggris juga sudah didapat. Tetap saja terasa kurang. Sekarang saatnya terjun langsung, beradaptasi, dan menjalaninya.

Banyak hal yang baru saya pahami sekarang. Misalnya, di Departemen Ilmu Politik mahasiswa tingkat master dan doktor tidak ada beda. Mata kuliahnya sama. Yang berbeda hanya jumlah kredit yang harus diselesaikan, dan tugas akhir. Tesis untuk master, disertasi untuk doktor.

Sebagai mahasiswa master, saya wajib ambil 36 kredit. Rinciannya adalah 12 kredit untuk mata kuliah metode, 9 kredit mata kuliah major (first field), dan 6 kredit mata kuliah minor (second field). Sisanya, 6 kredit studi mandiri (Independent Study) dan 3 kredit tesis. Jumlah kredit yang harus diambil untuk tingkat doktor lebih banyak dari itu.

Satu lagi. Mahasiswa doktor wajib ikut ujian komperehensif. Ini dilakukan setelah semua syarat kredit terpenuhi. Jika lulus, baru si mahasiswa berhak menyandang ‘kandidat doktor’ (Ph.D Candidate). Ganti kartu nama. Dari status sebelumnya ‘mahasiswa doktor’ (Ph.D Student).

Soal major dan minor itu sederhananya begini. Departemen Ilmu Politik NIU punya 5 bidang studi: teori politik, politik perbandingan, pemerintahan Amerika, hubungan internasional, dan administrasi publik. Mahasiswa doktor wajib memilih salah satu bidang studi sebagai major dan satunya lagi minor. Bidang studi yang jadi major, berarti kreditnya lebih banyak dari minor.

Sejak dua tahun ini, mahasiswa master ilmu politik NIU mesti ambil major dan minor. Tujuannya, untuk memudahkan mahasiswa itu jika melanjutkan program doktor. Tinggal meneruskan saja. Departemen Ilmu Politik umumnya memang untuk mahasiswa yang mau studi tingkat doktor. Banyak kampus besar di Amerika bahkan tidak membuka master ilmu politik, melainkan leading to Ph.D. Artinya program langsung doktor.

Saya memutuskan ambil jurusan politik perbandingan untuk major, dan pemerintahan Amerika untuk minor.

Mahasiswa master dan doktor dari seluruh bidang studi di Departemen Ilmu Politik NIU wajib ambil mata kuliah metode yang sama. Bedanya cuma doktor harus ambil Statistik 2, sementara saya cukup ambil Statistik 1. Karena itu, di kelas metode ini saya bisa ketemu teman-teman seangkatan. Meski berbeda major atau minor.

Di Departemen Ilmu Politik NIU, tiap mahasiswa doktor wajib ambil mata kuliah pengantar untuk major dan minor. Misalnya, jika memilih politik perbandingan, maka wajib ambil mata kuliah Pengantar Politik Perbandingan. Buat master tidak diwajibkan dan bisa langsung memilih mata kuliah seminar atau topik yang ditawarkan.

Di kelas mata kuliah bidang studi yang umumnya kelas seminar, komposisi angkatan mahasiswa lebih heterogen. Contohnya kelas Seminar Analisis Perbandingan Sejarah (Comparative Historical Analysis), salah satu pendekatan kualitatif dalam bidang studi politik perbandingan yang belakangan banyak di pakai. Di kelas, saya satu-satunya mahasiswa master. Selebihnya adalah mahasiswa doktor tahun pertama hingga keempat.

Mahasiswa internasional seperti saya dan beberapa teman dari Filipina, Myanmar, dan Korea Selatan cenderung memilih politik perbandingan untuk major. Sementara mahasiswa warga Amerika umumnya mengambil jurusan pemerintahan Amerika. Mungkin banyak yang berpikir lebih mudah belajar negara sendiri, yang memang sejak sekolah dasar sudah baca sejarahnya. Saya sendiri ambil politik perbandingan biar bisa menulis tentang Indonesia, baik untuk tugas paper maupun tesis.

Tugas-tugas mata kuliah seminar lebih padat ketimbang metode. Daftar bacaan (reading assignments) mingguan yang wajib dibaca lebih banyak. Per minggu antara 5-8 artikel jurnal atau bab buku. Selain itu, mahasiswa diberi tugas presentasi dan menulis paper. Misalnya, untuk kelas Seminar Otoritarianisme dan Demokrasi saya harus presentasi empat kali berikut paper presentasinya. Tugas akhirnya adalah menulis jawaban esai untuk empat soal, masing-masing esai minimal 2500 kata. Harus dikerjakan hanya dalam dua hari. Itu belum termasuk paper akhir yang lebih panjang: 6000-8000 kata. Tak perlu ditanya, semua itu pakai bahasa Inggris.

Satu semester tentu tak hanya kelas seminar itu saja. Semester Spring lalu saya ambil tiga mata kuliah: dua mata kuliah seminar dan satu mata kuliah metode.

Jadi begitulah, layar kini sudah terkembang. Kata pemadam kebakaran: pantang pulang sebelum padam.

Selanjutnya lihat Belajar Politik di Amerika (2)

Advertisements

One thought on “Belajar Politik di Amerika

  1. Pingback: Belajar Politik di Amerika (2) | A day in the life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s