Bombay Ekspres

20150115_105407Jam 9.30 malam.

Bis rute Suburban Apartment itu berhenti di halte depan Gedung Dusable. Dari luar tampak penuh. Beberapa mahasiswa berdiri karena tak kebagian kursi. Mereka mungkin baru selesai kelas malam seperti saya. Sebagian barangkali dari perpustakaan.

Pintu terbuka dan saya naik. Segera terdengar riuh percakapan bahasa Hindi di seantero bis. Kecuali saya dan sopir, selebihnya adalah para mahasiswa dari negeri Shah Rukh Khan itu. Ini bis Huskie, punya NIU. Malam itu rasanya seperti naik Bombay Ekspres.

Kejadian itu tidak sekali dua kali.

Itu satu potret diaspora bangsa India.

Dari 800-an mahasiswa internasional di NIU, sebagian besar memang berbangsa India. Saya tak tahu pasti jumlahnya. Tapi dari page NIU Indian Student Association di Facebook, jumlah yang me-like ada 554. Jumlah itu agaknya terus bertambah. Jika mahasiswa Indonesia di NIU hanya bertambah satu atau dua orang per tahun. Mereka bisa ratusan. Itu baru di NIU. Silakan hitung sendiri jumlah mereka di seluruh kampus Amerika.

Karena jumlahnya banyak, jangan heran kalau lihat mereka acuh tak acuh dengan sesama. Orang Indonesia, karena sedikit, tiap ketemu langsung tegur sapa.

Di NIU jumlah mahasiswa Indonesia cuma 12 orang. Sebagian besar di jurusan ilmu politik. Sementara mahasiswa India, banyak dari mereka mengambil jurusan teknik. Jadi kalau India salah satu penguasa teknologi di Asia, tak perlu kaget. Banyak dari mereka yang bekerja di raksasa teknologi seperti Microsoft, Apple, Facebook, Google, Samsung, dan Nokia.

Yang pernah nonton film 2012 karya Roland Emmerich tahu persis. Film itu dibuka oleh penemuan gejala pemanasan global oleh geologis India.

Dari segi GDP per capita, Indonesia memang lebih tinggi. Tahun 2013, GDP per capita India hanya 1.498.87 USD. Sementara Indonesia 3.475.25 USD. Apakah ekonomi jadi faktor pendorong diaspora India, saya tidak tahu pasti.

Ledakan demografis juga patut dipertimbangkan. Negeri itu kini dihuni 1,2 miliar jiwa. Sementara Indonesia dihuni sekitar 250 juta penduduk. Parahnya, luas daratan India hanya sepertiga lebih besar dari Indonesia. Luas daratan India 2.973.190 kilometer persegi. Sementara Indonesia 1.811.570 kilometer persegi. Dengan penduduk seperempat miliar, Indonesia kini sudah terasa sumpek. Bayangkan jika jumlahnya dua atau tiga kali lipat lebih besar.

Faktor lain mungkin bahasa. India pernah dijajah Inggris. Dan mereka jadikan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional kedua setelah Hindi. Artinya, jumlah penutur bahasa Inggris di India jauh lebih besar ketimbang Indonesia. Karena itu mungkin bahasa bukan kendala bagi mereka untuk merantau ke Eropa dan Amerika.

Film 99 Cahaya di Langit Eropa punya gambaran menarik. Salah satu konflik di film itu adalah antara mahasiswa Eropa dengan temannya orang Pakistan. Ini negara pecahan India. Satu hal yang mengganggu mahasiswa Eropa itu adalah aroma kari. Temannya yang orang Pakistan biasa memanaskan makanan di microwave di pantri kampus. Masalahnya, hidung si mahasiswa Eropa itu sensitif dengan bumbu kari. Aroma kari pun akhirnya jadi problema.

Satu lagi. Yang suka nonton Bollywood tahu film India banyak berisi dialog. Di bis, lihat mereka bercakap-cakap sepanjang jalan adalah pemandangan lumrah. Di perpustakaan, jika mereka datang berdua atau lebih, seringkali lebih banyak mengobrolnya. Kalau lagi sendiri, tak jarang sambil menelepon atau skype. Kalah sudah begitu, saya memilih pindah tempat.

Ketika baru datang, banyak cerita tentang mahasiswa India yang saya dengar dari teman-teman Indonesia di Dekalb.

Perjuangan diaspora mahasiswa India itu memang menakjubkan. Soal survival, tak usah ditanya. Seorang teman cerita, satu apartemen tiga kamar bisa diisi lebih dari sepuluh orang. Ada lagi yang cerita, banyak dari mereka datang ke kantor-kantor di NIU melamar kerja. Beberapa karyawan gerai Subway sekitar kampus, saya lihat orang India.

Saya tidak tahu persis bagaimana mereka bisa sampai Amerika. Beasiswa pemerintah India atau Amerika tentu tak semasif itu. Ada yang bilang, keluarga besar mereka patungan untuk biaya kuliah. Pernah juga saya dengar mereka pakai dana pinjaman dari bank (loan) di negeri mereka. Ada lagi yang konon bermodal nekat, yang penting cukup untuk bayar kuliah. Biaya hidup bisa cari kerja di sekitar kampus.

Meski, banyak juga yang memang anak orang kaya.

Sejumlah dosen NIU orang India. Dosen statistik saya orang India. Beberapa teman yang kuliah di kampus lain di Amerika juga cerita punya dosen orang India.

Tapi, diaspora India tak hanya di sektor pendidikan. Banyak dari mereka yang merambah dunia bisnis di Amerika. Contoh terdekat adalah Suburban Apartment. Apartemen yang ditinggali mayoritas mahasiswa Indonesia di NIU itu sejak beberapa bulan lalu sudah pindah tangan. Kini pemiliknya adalah orang India.

Kadangkala, tiap kali bis NIU yang saya tumpangi berhenti di halte, saya berharap. Semoga yang naik Aishwarya Ray, Kareena Kapor, atau Priyanka Chopra. Minimal titisannya. Tapi tampaknya mereka tak pernah mampir di Dekalb.

Advertisements

6 thoughts on “Bombay Ekspres

  1. Ohhh men……. Jenaka bait demi bait tulisanmu pak……
    Hahhahahah…… Klu kareena kapor gak kunjung datang di dekalb mending bawa remote control deh…… Soalx kadang cukup bising…. Klu bawa remote kan bisa pindah channel atau minimal kecilin volume deh….. Hahahahah

    Like

  2. Kalau di Penn State Indianya juga banyak loh mas, tapi teman-teman dekat lebih aware kalau saya ada di sekitar mereka ngomongnya pakai teletext di bawahnya, ha ha ha. Orang India tu di mana-mana sama ya. Tapi yang di Penn State cantik dan ganteng loh…

    Like

    • Mas Testri lah yang ke sini, nanti saya kenalin dengan yang lebih cantik dari Aishwarya Ray deh. Punya banyak teman India jadi gak kepingin nonton film India lagi, langsung live aja ketemuan, ha ha ha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s