Buku

2014-08-15 15.15.16Waktu kuliah akan mulai, saya sempat panik. Saya mengambil tiga mata kuliah. Dalam silabus tiap mata kuliah, ada sejumlah buku dan artikel jurnal yang wajib dibaca. Total ada ratusan.

Dari mana saya bisa dapat bahan kuliah itu hanya dalam dua minggu?

Saya ingin sedikit kilas balik dulu.

Di Indonesia, beberapa buku babon dalam ilmu sosial hanya saya kenal judulnya. Atau, kadang saya masih bisa dapat beberapa. Buku Social Origins of Dictatorship and Democracy (1966) karya Barrington Moore dan States and Social Revolutions (1979) karya Theda Skocpol contohnya. Tapi, saya harus mengkopinya dari buku yang sudah fotokopian.

Kampus memang punya perpustakaan. Tapi isinya didominasi buku berbahasa Indonesia. Banyak di antaranya yang tidak layak untuk dikutip sebagai karya akademis.

Karena itu, banyak mahasiswa di Indonesia tidak membaca bacaan-bacaan standar bidang ilmunya. Misalnya dalam ilmu politik. Mereka tidak membaca langsung teori-teori demokrasi yang dibaca mahasiswa Amerika, seperti Sidney Verba, Robert Putnam, atau Adam Przeworski. Kalaupun tahu, itu dari tangan kedua. Lewat ilmuwan Indonesia yang mengutip teorinya, karena pernah mengecap sekolah di luar negeri.

Hanya beberapa gelintir karya-karya penting dalam ilmu sosial yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Contohnya buku Demokrasi Pluralis karya Robert Dahl.

Beruntung kalau dosen yang mengajar lulusan luar negeri. Mereka biasanya kasih bacaan dari buku yang mereka bawa dari luar negeri. Mahasiswa tinggal fotokopi. Di UIN Jakarta, saya pernah diajar Jajang Jahroni, antropolog dari Boston University, Amerika, yang masternya dari Leiden University, Belanda. Buku yang wajib dibaca di kelas yang diajarnya waktu itu adalah Readings on Islam in Southeast Asia (1985)diedit oleh Ahmad Ibrahim, Sharon Siddique, Yasmin Hussain.

Setahu saya, kampus di Jakarta yang punya banyak koleksi buku berbahasa Inggris adalah Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Umumnya buku-buku filsafat. Lewat beberapa teman yang kuliah di sana, saya dan teman-teman di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) sering memfotokopi buku-buku dari perpustakaan itu. Selain untuk bacaan pribadi, buku itu untuk bahan diskusi di Formaci. Contoh lainnya adalah Perpustakaan Freedom Institute. Sejumlah buku penting ilmu sosial bisa ditemukan di sana.

Perpustakaan UIN Jakarta memang punya koleksi berbahasa Inggris. Terutama dalam bidang filsafat dan studi Islam. Dalam buku-buku itu tertera catatan: “Sumbangan dari Prof. Dr. Harun Nasution.” Almarhum Harun Nasution adalah pembaharu Islam, lulusan McGill University, juga pernah jadi rektor UIN. Koleksi bukunya yang banyak ia sumbangkan ke almamaternya.

Dulu waktu sedang menulis skripsi, saya harus ke Perpustakaan UI, LP3ES, bahkan Perpustakaan Nasional. Menembus macet, buang waktu, juga tenaga. Hanya untuk mencari satu dua buku yang wajib dikutip, tapi tak tersedia di perpustakaan UIN.

Nah, di sini bedanya. Di Amerika, buku dan bahan kuliah lain tak pernah jadi masalah. Perpustakaan punya beragam mekanisme yang membuat mahasiswa tak perlu pusing. Cukup duduk di depan laptop.

Tak perlu juga repot memfotokopi—karena memang melanggar hak cipta. Tapi, kampus menyediakan semuanya.

Ini yang bikin iri.

Jika buku yang saya butuhkan tak ada di perpustakaan NIU, saya bisa cari di perpustakaan jaringannya. Namanya I-Share Libraries. Biasanya terdiri dari perpustakaan di kampus-kampus terdekat dalam satu negara bagian. Caranya sederhana. Semua dilakukan lewat akun perpustakaan NIU milik mahasiswa bersangkutan. Serba online. Tinggal klik. Dalam beberapa hari buku datang. Bisa di ambil di meja sirkulasi.

Jika di I-Share tak ada, cara lain masih tersedia. Mengusulkan perpustakaan untuk beli. Tapi ini belum pernah saya coba, karena biasanya sudah dapat dari I-Share.

Saya membayangkan UIN Jakarta, UI, STF Driyarkara, Freedom Institute dan beberapa perpustakaan kampus lain di Jakarta bisa membentuk model jaringan ini. Mahasiswa tak perlu lagi menembus macet demi mencari sebuah buku.

Jurnal pun begitu. Kampus NIU berlangganan raksasa database jurnal seperti JSTOR dan Project Muse. Kalau artikel yang dicari tidak ada di database langganan kampus, bisa minta carikan lewat NIU Illiad. Ini singkatan dari Northern IIllinois University InterLibrary Loan internet accessible database. Yaitu sistem jaringan elektronik antar-perpustakaan. Semua serba online. Klik. Beberapa hari kemudian tinggal cek di email.

Di jurusan ilmu politik, artikel jurnal banyak dipakai dalam silabus. Sebabnya sederhana, hasil-hasil riset terbaru biasanya terbit dulu di jurnal. Sebelum kemudian terbit lebih panjang dan lengkap dalam versi buku.

Beberapa kampus di Indonesia, termasuk UIN Jakarta, saya dengar sudah mulai berlangganan JSTOR. Ini kabar baik, semoga bisa melanggan database lain.

Jadi, soal fasilitas belajar, Amerika memang surganya. Mahasiswa dimanja oleh akses bacaan yang melimpah dan mudah didapat.

Jika ingin beli buku, mungkin buat koleksi, juga sangat gampang. Tak perlu jauh-jauh ke toko buku. Tinggal buka toko online seperti Amazon. Kalau tak mampu beli buku baru, bisa beli buku bekas yang harganya sangat terjangkau. Jika tak mau beli, sewa pun bisa. Lagi-lagi semua serba online, mudah, cepat.

Jadi, kalau lmu pengetahuan di Barat lebih maju, itu bukan karena mereka suka keju dan burger, sementara kita makan singkong dan tempe. Ini soal akses ilmu yang berbeda. Bahan bacaan kita beda dengan yang dibaca mahasiswa Amerika. Padahal bidang ilmu dan yang dipelajari sama.

Saya dengar pemerintah ingin beli kereta peluru Cina harga 50 triliun. Untuk rute Jakarta-Bandung. Lain waktu, siapa tahu pemerintah juga akan menganggarkan 50 triliun. Untuk beli buku.

Advertisements

2 thoughts on “Buku

  1. Wah……. Bicara soal akses buku bermutu, negeri paman sam emang lebih baik…. Negeri kitapun sedang menuju kesana….. Semoga tdk terlalu lama….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s