Renegade

H-D_MuseumDosen saya punya cerita. Waktu berkunjung ke Indonesia, taksi yang ia tumpangi terjebak macet. Karena tak ingin melanggar janji, ia ganti naik ojek. Betul, ia berhasil mengejar waktu. Yang tak ia lupa, selama perjalanan itu jantungnya berdegup kencang.

Semua tahu, kelakuan banyak sopir ojek dan pengendara motor di Indonesia seperti orang punya sembilan nyawa. Jika ditegur, atau menyenggol kendaraan lain, justru mereka yang naik pitam.

Di sini, berkendara ugal-ugalan tak pernah jadi kaidah umum. Jalanan lebar-lebar, pun tak ada macet. Selain itu, ada aturan speed limit yang berlaku ketat. Kalau melanggar, bakal kena denda besar. Menyuap polisi, siap-siaplah kehilangan SIM.

Jalanan Amerika memang cocok untuk motor gede. Berbeda dengan Eropa yang jalannya terkenal sempit. Mungkin karena Indonesia bekas jajahan Belanda, jalanannya lebih mirip Eropa. Banyak jalanan yang hanya terdiri dari satu lajur pada tiap jalurnya.

Musim panas telah tiba sejak akhir Juni lalu. Musimnya pemotor Harley Davidson lalu lalang di jalan raya. Di musim dingin motor-motor itu terparkir di garasi. Tak ada yang kuat bermotor di cuaca dingin. Jika bersalju, jalanan jadi licin. Bahaya.

Tapi, selama dua musim panas di Amerika, saya nyaris tak pernah lihat konvoi panjang pemotor Harley Davidson. Hanya sesekali mereka rombongan, itupun cuma 3-5 motor. Tanpa pengawalan.

Yang pernah baca sejarah dan politik Amerika tahu, di sini asosiasi bentukan masyarakat bak jamur di musim hujan. Kata Tocqueville, asosiasi kewargaan itu jadi pilarnya demokrasi di Amerika. Beragam asosiasi pemotor Harley Davidson turut meramaikan asosiasi kewargaan itu. Tapi, mungkin karena aturan berkendara di sini ketat, juga tiap negara bagian punya regulasi yang berbeda-beda, mereka tak bisa semaunya mengadakan konvoi.

Aturan lalu lintas di sini sebenarnya tak ribet-ribet amat. Di antaranya, di jalanan, mobil dan motor dianggap setara. Tiap motor, baik gede maupun bebek, harus ambil space layaknya satu mobil. Karena itu, perilaku mereka juga jadi sama dengan pengendara mobil.

Pejalan kaki dinomorsatukan. Trotoar buat pejalan kaki lebar dan nyaman. Ada rambu khusus penyeberang jalan di hampir tiap lampu merah. Kalau pun mereka tak patuhi rambu itu, mobil dan kendaraan lain tetap mengalah. Mereka dahulukan penyeberang jalan, meski lampu sedang hijau.

Karena itu, mendengar klakson jadi pengalaman langka.

Selain itu, polisi umumnya cuma mengawal mobil ambulan dan pemadam kebakaran. Tapi tidak selalu. Sebab begitu dengar sirene, semua pemakai jalan akan segera minggir dan berhenti. Semua patuh pada aturan itu.

Saya pernah berkunjung ke museum Harley Davidson di kota Milwaukee, di Wisconsin. Kota ini jadi tempat kelahiran pabrik motor Harley Davidson. Sisa-sisa gedung tua jadi saksi kota ini pernah jadi kota industri.

Memang, orang Amerika ini gemar menyimpan kenangan. Mereka bikin banyak museum. Juga, beraneka bangunan memorial berupa gedung, monumen, patung, dan taman. Mungkin karena mereka tak ingin melupakan sejarah. Di kota kecil Dekalb saja ada Ellwood House Museum dan dua museum milik NIU: NIU Art Museum dan Anthropology Museum. Sementara di kota sebelah, Sycamore, ada Midwest Museum of Natural History.

Pendeknya, cari museum bukan perkara susah.

Di museum Harley Davidson itu saya terkagum-kagum. Sejarah perkembangan motor Harley Davidson digambarkan secara detail. Nama Harley Davidson berasal dari nama dua sahabat William S. Harley dan Arthur Davidson. Mereka mulai merintis industri motor itu tahun 1903. Perang Dunia jadi berkah buat mereka. Perang butuh kendaraan yang bisa menembus medan berat, tapi juga bisa bawa pasukan dan logistik. Pesanan perang mencapai lima belas ribu pada PD 1, dan hampir menembus angka 100 ribu pada PD 2.

Museum itu mamajang motor Harley Davidson mulai dari generasi yang paling awal sampai yang paling baru. Sejarah, inovasi, dan naik-turun industri Harley Davidson tercatat rapi. Lengkap dengan sejumlah video yang bisa ditonton.

Pengunjung bisa lihat perkembangan tipe motor, jenis mesin, dan rangka badannya.  Juga, beragam pajangan asesoris pengendara Harley Davidson. Ada pula motor-motor Harley Davidson yang pernah dipakai dalam film hollywood. Kalau pengunjung pengen coba naik, juga disediakan. Tentu cuma untuk numpang gaya dan berfoto.

Di sini, Harley Davidson jadi kebanggaan bersama. Di Indonesia, pemotor Harley Davidson jadi sasaran kemarahan masal.

Waktu Elanto Wijoyono mendadak jadi pahlawan karena berani menghadang konvoi pemotor Harley Davidson yang melanggar lalu lintas di Yogya, tiba-tiba saya teringat Renegade. Generasi yang lahir tahun 80-an pernah nonton film itu. Adegan pembukanya sulit dilupa. Seorang pengendara motor muncul dari balik senja merah. Zaman cowboy telah berakhir. Gantinya, jagoan bermotor Harley Davidson, berambut gondrong dan berkaca mata hitam. Dengan suara knalpot motornya yang menggelegar.

Tapi, bukan kekhasan itu yang buat pengendaranya tampak gagah. Saya duga, itu justru karena mereka tak pakai voorrijder. Tak pernah memaksa orang lain mengalah buat jalan mereka.

Konstitusi Amerika terang-terangan menyebut, tak boleh ada diskriminasi apapun bentuknya. Karena itu, mungkin, tak ada “bisnis sewa” voorrijder di sini.

Advertisements

4 thoughts on “Renegade

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s