American Dream

20140810_151234Beberapa pemuda sedang ber-barbeque di jalanan dekat apartemen. “Excuse me,” ucap saya ketika lewat di depan mereka. Seorang dari mereka menjawab sambil meracau. Seorang lainnya tiba-tiba berujar, “Do you live in American Dream?”

Tak peduli itu diucapkan sambil mabuk atau tidak, pertanyaan itu cukup mengusik.

James Truslow Adams, dalam bukunya The Epic of America (1931), menulis bahwa ‘American Dream’ adalah “dream of a land in which life should be better and richer and fuller for everyone, with opportunity for each according to ability or achievement.”

Deklarasi Kemerdekaan Amerika secara jelas menyebutkan bahwa “all Men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are life, Liberty and the Pursuit of Happiness.”

Simbol American Dream itu adalah Patung Liberty di New York.

Bangsa ini, yang asal muasalnya adalah imigran Eropa, memang memimpikan kehidupan yang lebih baik ketimbang di tanah asal. Bagi mereka, mimpi itu hanya mungkin terwujud lewat tatanan sosial yang menjamin penuh kebebasan mereka untuk hidup, kaya, dan bahagia. Karena itu, kebebasan di sini adalah hak yang tak bisa ditawar.

Belakangan, American Dream punya banyak makna. Ada yang bilang American Dream berarti mengejar kekayaan materi. Akibatnya, banyak dari mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk kerja demi mobil bagus, rumah mewah, dan kesejahteraan keluarga. Ironisnya, mereka justru hanya punya sedikit waktu untuk menikmati kemakmuran yang susah payah mereka perjuangkan itu.

Bagi yang kurang mampu, American Dream adalah bekerja di dua tempat untuk menjamin kelangsungan hidup keluarga. Saya pernah lihat karyawan NIU yang  jadi kasir di supermarket Walmart. Sementara bagi pendatang, American Dream adalah jadi warga Amerika. Tak peduli caranya. Ia adalah cita-cita kelas pekerja imigran untuk sukses dan melebur dengan cara hidup Amerika.

Ada satu adegan dari film Hollywood tentang imigran yang terus saya ingat. Sambil menurunkan imigran ilegal dari truk, seorang human trafficker berteriak, “Ayo cepat, cepat! Ini Amerika! Waktu adalah uang.” Cerita tentang imigran memang jadi salah satu tema film-film Hollywood. Ada yang berkisah tentang imigran dari daerah perbatasan seperti Meksiko, yang masuk Amerika berjalan kaki menembus padang gersang. Ada juga gambaran imigran Cina yang masuk Amerika naik perahu kayu yang sumpek dan rawan tenggelam.

Saya jadi ingat teman saya yang dari Cina, satu dari 200-an mahasiswa Cina di NIU. Ia adalah potret kelas menengah negeri yang dulu terkenal dengan julukan tirai bambu itu. Ekonominya tumbuh 7,7 persen per tahun, atau peringkat ke-14 di dunia. Di antara negara-negara berkembang di Asia dan Afrika yang tergabung dalam Kelompok G-20, pertumbuhan ekonomi Cina nomor satu.

Indikasinya jelas. Dari total 886.052 mahasiswa internasional yang terdaftar di Amerika tahun 2013-2014, misalnya, 274.439 orang (31%) berasal dari Cina. Tertinggi kedua mudah ditebak: India. Jumlahnya 102.673 orang (11.6%). Menurut penelitian Neil Ruiz dari Brookings Institute di Washington, pelajar Cina menyuntik ekonomi Amerika sebesar sekitar 7 miliar dolar untuk biaya kuliah (tuition) dan 4 miliar dolar untuk biaya hidup (living cost).

Itu belum ditambah angka turis Cina di Amerika. Di NIU, kegiatan-kegiatan Summer camp banyak diikuti oleh remaja dari Cina. Itu jadi pemandangan umum di kampus-kampus Amerika. US Travel Association mencatat, jumlah wisatawan Cina ke Amerika meningkat dari 200.000 pada 2003 menjadi 1,8 juta pada 2013. Silakan hitung sendiri berapa duit yang masuk ke Amerika dari jumlah turis sebanyak itu. Diakui atau tidak, pertumbuhan ekonomi Cina jadi berkah buat Amerika.

Di saat yang sama, pesatnya ekonomi Cina bikin Barat ketar-ketir. Cina kini jadi superpower baru yang dipimpin pemerintah komunis yang kuat. Di Asia, Amerika kini punya lawan yang sepadan. Cina misalnya siap menghutangi proyek-proyek infrastruktur pemerintahan Jokowi-JK. Janji serupa ditawarkan kepada pemerintah-pemerintah lain di Asia.

Teman saya yang dari Cina itu cerita, ayahnya adalah pemilik merangkap karyawan sebuah usaha penyedia alat konstruksi. Ia hanya punya beberapa karyawan, yang semuanya adalah keluarga. Tapi, ia bisa berwisata dari Bali sampai New York. Menyekolahkan anak ke Amerika.

Selama satu tahun ini, teman saya itu dijenguk oleh ayah, ibu, adik, bibi, keponakan, bahkan pacar. Mereka datang untuk berwisata. Gaya pakaian dan kendaraan mahasiswa Cina di Amerika juga jadi bukti tingkat ekonomi mereka. Tentu cukup kontras dibanding kebanyakan mahasiswa Asia lain macam India. Meski begitu, ketika saya tanya selesai kuliah nanti mau kemana, teman saya itu bilang, “Saya akan coba cari kerja di sini.”

Barangkali orang-orang Cina itu menikmati kebebasan di negeri ini. Di negeri mereka, untuk ber-facebook-an saja mereka harus sembunyi-sembunyi. Facebook, Twitter, Google secara resmi dilarang di sana. Tapi ketika saya tanya, apakah ia pilih demokrasi liberal model Amerika atau rezim komunis Cina, dia ambigu. Dia ingin kebebasan, tapi tak sebebas Amerika. Bagi yang biasa hidup dalam belenggu otoritarianisme, kebebasan seringkali tampak menakutkan. Meski sebetulnya mereka sangat menikmatinya.

Dalam satu acara makan siang, ayah teman saya itu bertanya, “Kamu mau cari kerja di sini?”

“Tidak,” jawabku. “Kenapa?” tanyanya lagi. “Saya tidak tertarik. Saya tidak punya bayangan hidup dan menua di Amerika.”

Beberapa teman menganjurkan saya untuk mengambil program doktor, bawa keluarga, lantas punya anak di sini. Biar jadi warga Amerika. Saya hanya senyum. Dalam hati, saya justru bangga lahir di Indonesia, jadi orang Indonesia.

Ada memang beberapa orang Indonesia yang saya kenal di sini, yang bekerja di Amerika. Sudah tinggal lama, bahkan punya anak yang lahir di Amerika. Tapi tetap saja senang berkumpul dengan sesama orang Indonesia. Aktif di pengajian masyarakat diaspora Indonesia di Amerika.

Teman-teman mahasiswa Indonesia di sini juga sama. Banyak dari mereka aktif di organisasi kampus sambil memperkenalkan Indonesia lewat seni, musik, dan budaya. Di hari jadi Indonesia ke-70 yang lalu mereka datang ke Konjen terdekat. Ikut upacara dan kegiatan perayaan kemerdekaan. Atau jika di kampusnya ada Permias, mereka bikin acara keindonesiaan sendiri.

Selain itu, mereka tak pernah lupa tradisi agama. Yang Muslim tetap rajin shalat dan ke masjid. Yang Nasrani pun rajin ke gereja. Bahkan mereka ikut berbagai kegiatan gereja sambil terus memperkenalkan Indonesia. Teman saya dari Bali, Kadek Ridoi Rahayu, yang tinggal di New Jersey, bahkan tak pernah absen ikut upacara hari besar Hindu di Washington, D.C.

Beberapa waktu lalu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengingatkan penerima beasiswa yang akan belajar ke luar negeri agar mewaspadai cuci otak. Alasannya, mereka rawan jadi alat dari negara yang akan kehabisan energi saat kembali nanti, sehingga akan mengancam Indonesia. Saya justru heran, kok bisa kekhawatiran macam itu muncul.

Advertisements

9 thoughts on “American Dream

  1. Closingnya nendang ya, saya sebelum berangkat ke sini juga diwanti-wanti demikian. Padahal kenyataanya beberapa orang yang memang sudah menetap di sini rasa nasionalismenya malah lebih kuat dari saya pribadi. Ah… manusia memang dipenuhi prasangka ala-ala.

    Membaca istilah American Dream, saya jadi tersenyum sendiri. Jadi ingat komentar salah satu teman setelah saya ceritakan mengenai pengemudi taksi kuning gila di seputaran NYC. Sinis sekali komentarnya seperti menegaskan bahwa yang di movie-movie itu hanya rekayasa. Tapi toh saya tidak mau mematikan ketertarikan saya untuk menjelajah di sini.

    Tentang beribadah, ah….saya kadang selalu menikmati jadi minoritas. Jadi ya ga kaget-kaget ametlah hahaha. Senang sekali di sini berjumpa teman-teman yang solid jadi kalau kangen orang tua saya tinggal jumpa mereka lalu sembahyang bersama ~saya sering menjadikan ibadah sebagai jalur komunikasi jarak jauh dengan orang tua saya~.
    Eh tapi ini ga menutup kemungkinan untuk Bli Bli beda agama, keyakinan (yakin saya cantik atau kurang yakin saya cantik) untuk PDKT sama saya lhoo….. nanti kan komunikasi bisa ditempuh dengan jalan bermacam-macam. *lhaaaah kok malah promo curhat*

    ampuuun Mas Tes….

    Liked by 1 person

  2. Benar sekali Mas Testri, sejak internship di Education Abroad dan Global Engagement saya banyak mengamati fenomena yg sangat menarik. Untuk program Education Abroad, mereka mati-matian memikirkan gimana caranya supaya orang Amerika mau study abroad, mereka bahkan menyiapkan berbagai beasiswa untuk itu. Di Global Engagement saya malah berkumpul dengan teman-teman internasional yg jumlahnya di Penn State hampir 9% dari sekitar 45 ribu an total mahasiswa. Mereka justru mati-matian membuat mhs internasional betah di Penn State dan mengundang calon mhs lain dari negara asal mereka.

    Tuition yg berbeda antara mhs lokal dan mhs internasional membuat Penn State mengistimewakan mhs international. Bagi kita yang mhs sponsor bahkan punya kedudukan yg lebih istimewa karena ada kemungkinan kerjasama berkesinambungan.

    Tidak bisa dipungkiri para teman-teman internasional yang tidak disponsori akan tetap tinggal di US dan berusaha menggapai American dream. Khusus utk jurusan sains banyak sekali Teaching Assistant and Research Assistant dari China, India, South Korea dan negara-negara lain. Mereka kerja diberi gaji bulanan dan Tuition fee, kebijakan ini diambil utk mempertahankan reputasi Penn State sebagai research campus. Para mhs international pilihan ini lah yg mengerjakan penelitian-penelitian untuk konfrensi – konfrensi atas nama dosennya.

    Beberapa hari yg lalu ada teman dari Korea Selatan yg curhat. Dia baru lulus Ph.D di Curriculum n Instruction. Mau kerja di Amerika susah karena ada banyak aturan ngajar SMA, mau jadi faculty member susah juga, mau balik ke Korea Selatan para lulusan S2 dan S3 disana bejibun, akhirnya dia kerja apa saja asal bisa tinggal di USA.

    Balada mhs internasional antara harapan dan kesempatan menggapai American Dream. Kl boleh jujur, para tamatan Graduate Student dari Indonesia yg belum punya pekerjaan di Indonesia bisa mempunyai nasib yang sama dengan teman dari Korea Selatan itu. Bimbang karena lulusan Amerika kadang-kadang ilmunya memang tidak terpakai di Indonesia.

    Liked by 1 person

  3. tergelitik geli baca part: pertanyaan kpd teman dari negeri tirai bambu? senang: demokrasi liberal atau rejim komunisme ala cina? diapun ambigu????? wkwkwk…. tentu saja gak ada jawaban tegas utk pertanyaan itu mas Testri….

    satu sisi mereka menikmati kebebasan demokrasi ala amerika, sisi lain (secara teori: mungkin tak selamanya benar sih……) elit dan kelas menengah atas, telah dan sedang menikmati serta diuntungkan dalam sistem politik ala china.

    bagi lower class…. yang mana mereka sudah terlalu lama hidup dalam “chronic systematic violence” (for the country’s sake), mereka merasa bahwa keadaan yang paling normal adalah keadaan yang berlaku dalam sistem mereka saat ini (normalizing violence)….

    semoga bermanfaat….

    Liked by 1 person

  4. Paul, thanks sudah kasih alternatif argumen. Benar sekali. Boleh jadi banyak kelas menengah merasa sangat diuntungkan dgn sistem politik saat ini. Karena itu, lebih baik mempertahankan status quo ketimbang menuntut perubahan. Oya, thanks untuk teori “normalizing violence”. Boleh saya dikirimkan readingnya kalo tidak merepotkan.

    Mem Dina, thanks sdh sharing. Boleh jadi dgn semakin banyak lulusan luar negeri, ke depan mgkn akan makin banyak diaspora Indonesia yang mengejar karier di luar negeri ketimbang pulang ke tanah air. Tapi tentu tidak untuk Mem Dina. Hehe…

    Like

  5. Saya sekarang masih dalam masa2 lebih mencintai negeri sendiri, spt kata pepatah “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik negeri sendiri”. Masih mau pulang…. :). Tapi tergantung apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan… hahahahha…
    Berharap dan berusaha untuk selalu mau pulang…
    Di sini kebanyakan teman2 yang dari Asia, terutama kalau di tempatku anak2 dari Iran itu pasti mau tinggal di US, mereka selalu heran knp saya mau pulang…. Saya bilang hidup di Indonesia itu cukup enak. Cukup sejahtera, cukup demokratis, iklimnya tropis, dan tidak perlu kerja terlalu keras tdk knl waktu spt orang amerika tapi bisa hidup. Yang penting cukuplah…. hahahahha

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s