Kopi Darat

IMG_7055

Mereka memastikan datang. Di samping logistik lain, daging sapi telah saya siapkan. Akan ada menu istimewa.

5 November 2015. Musim gugur telah tiba. Daun-daun sudah mengering, rontok, tak kuat menahan dingin. Tinggallah pohon-pohon gundul sepanjang jalan. Berdiri menantang, menanti siraman salju.

Melihat Wisnu Trianggono, Rudi Hermawan, Frans Judea Samosir, dan Kadek Ridoi Rahayu turun dari bis Greyhound yang membawa mereka dari Chicago, saya jadi lupa tugas-tugas kuliah. Rasanya seperti bertemu keluarga dari jauh setelah sekian lama.

Padahal, tiap hari kami berkomunikasi di grup WhatsApp PRESTASI 2013. Sesekali ngobrol lewat Skype group. Tapi benar kata orang, “kopi darat” memang beda.

Sayang, mereka tak sempat lihat ladang jagung yang mengelilingi Dekalb. Jagung sudah dipanen, tinggal tanah kosong menghampar luas. Sebentar lagi, tanah hitam itu berubah jadi putih, tertutup salju musim dingin.

Waktu sekolah, saya sebenarnya sudah terbiasa berpisah dengan keluarga. Tamat SD saya masuk Pesantren Ar-Riyadh di Palembang. Karena dekat, tiap libur pasti pulang ke rumah.

Selepas itu, saya masuk ke Pesantren Pabelan di Magelang. Selama tiga tahun di sana saya tak pernah pulang. Lebaran di Pondok. Sewaktu kuliah di Jakarta pun begitu. Saya baru pulang di tahun ketiga. Saya ingat, ibu pernah menelepon ke basecamp Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), tempat yang pernah saya tinggali ketika kuliah di UIN Jakarta.

“Pulang nggak nanti lebaran?” ujar ibu di seberang telepon. Saya jawab, “Nggak, Bu.”

“Gak kangen apa sama ibu?” Saya terdiam.

Kalau dipikir-pikir sekarang, memang aneh juga. Cuma berbeda pulau sampai tak pulang lebaran. Tapi begitulah, waktu sekolah saya suka bertualang: main ke rumah teman, berkunjung ke rumah keluarga di Jawa atau Jakarta, naik gunung. Bahkan, pernah waktu libur sekolah di Pabelan, saya ke Bali. Pergi bertiga bersama Othonk dan Wardan, modal nekat, gaya anak jalanan. Duduk di pintu gerbong kereta, karena tak beli tiket resmi. Bermalam di Pantai Kuta, terbangun ketika air pasang menyentuh kaki.

Kata ibu ke Seha, istri saya, “Testri waktu kecil memang suka merantau.”

Sekarang, saya bisa merasakan kerinduan orang tua kepada anaknya.

Musim gugur 2014 jadi saat paling berat. Terpisah jauh dengan anak dan istri, menghadapi lingkungan dan kehidupan baru, ditambah harus beradaptasi dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Tapi itulah, tiap pilihan memang mengandung resiko. Dan sesekali barangkali saya perlu keluar dari zona nyaman.

Untungnya, teknologi komunikasi kini sudah sangat maju. Skype, WhatsApp, dan Facebook membuat saya terus dapat terhubung dengan keluarga. Bisa menelepon sambil tatap muka.

Juga, bisa terus terhubung dengan teman-teman di Indonesia dan di Amerika. Khususnya dengan teman-teman penerima beasiswa PRESTASI.

Selain itu, walau tak banyak, ada belasan mahasiswa Indonesia di NIU. Meski tak tiap hari ketemu, ada banyak kesempatan yang mempertemukan: kampus, belanja, badminton, atau kumpul-kumpul makan. Hampir tiap bulan selalu saja ada ajakan kumpul, terutama dari Pak Tunru dan Bu Srie. Mereka “Pak Lurah dan Bu Lurah” bagi mahasiswa Indonesia di NIU. Kami anggap sebagai orang tua di sini.

Saya ingat kolega saya di PPIM, Jajang Jahroni, suatu kali pernah bilang. “Yang paling berat dari sekolah di luar negeri itu adalah membunuh rasa sepi.”

Berbeda dengan suasana Indonesia yang komunal, di Amerika individualisme sangat terasa. Tiap-tiap orang hidup dalam kesibukan masing-masing dan tak ingin saling mengganggu. Saya tak pernah kenal tetangga yang tinggal di sebelah apartemen saya, dan apa kesibukan mereka. Nyaris tak pernah bercakap-cakap. Sesekali, jika berpapasan melempar senyum atau menyapa “hai.” Itu pun sangat jarang.

Ketemu teman kuliah hanya ketika ada kelas. Setelah kelas bubar, masing-masing pulang ke kesibukan dan tempat tinggalnya. Maklum, selain tugas paper dan bacaan yang menumpuk, umumnya mahasiswa pascasarjana di Amerika dibiayai oleh kampus lewat assistanship atau menjadi asisten dosen. Tugasnya banyak, mulai dari ikut mengajar, menyiapkan bahan kuliah hingga menilai tugas mahasiswa undergraduate.

Hari itu, Wisnu, Rudi, Jude, dan Doi, saya ajak keliling NIU. Tentu saja foto-foto dengan aneka gaya. Banyak canda dan tawa. Siang kami makan di restoran Cina, malamnya Wisnu masak sate Padang. Dokter yang sedang studi master di University of North Carolina, Chapel Hill, itu memang punya banyak talenta. Ia tak hanya jago main gamelan, ternyata juga jago masak.

Tentu saja, acara kopi darat itu takkan sukses bila tak ada Doi. Gadis Bali itu juga multitalenta, mulai dari menari, MC, baca berita, sampai main drama. Ia yang bikinin kami kopi buat teman ngobrol. Urusan masak air, ia memang jagonya.

Hari itu kuliah di Amerika jadi terasa ringan.

Advertisements

3 thoughts on “Kopi Darat

  1. Tapi kita kan sempat main di kadang jagung pasca panen Mas, hahaha segitu aja kami uda girang banget 🙂 makasi ya sudah jadi tuan rumah yg baik. Yuk kapan ke New York.

    Btw bagian akhir kok malah promosi Pak Wisnu sih? Harusnya promosi Aku dong (kan jomblo newbie) Aku juga masakin kalian air looo buat bikin kopi. 😢

    *bangga 😂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s