Natal

Tiap Natal tiba, saya teringat dongeng itu.

Seorang gadis kecil yatim piatu penjaja korek api termangu di pinggir jalan. Dagangannya tak laku. Semua rumah yang ia datangi tak ada yang mau beli. Dari sudut jalan, ia hanya bisa menatap sedih. Bocah-bocah lain tengah bergembira merayakan Natal bersama orang tuanya.

Salju di malam Natal itu membuat sekujur tubuhnya yang kelelahan itu menggigil kedinginan. Korek api yang tak laku itu lalu dibakarnya untuk menghangatkan tubuh. Hingga akhirnya ia tertidur dan bermimpi tentang Natal yang indah.

Dongeng itu saya dengar pertama kali dari sebuah toko kaset di salah satu pusat perbelanjaan di Palembang. Tahu saya tertarik, bapak membelikannya.

Itu mungkin jelang akhir 1980-an. Tahun 1981, Buya Hamka, yang waktu itu Ketua MUI, mengeluarkan fatwa tentang mengucapkan selamat Natal. Itu untuk merespon kontroversi di kalangan Muslim saat itu. Tentu soal ini saya baca jauh ketika saya sudah kuliah.

Tapi, waktu itu, bapak dan ibu tak pernah mempersoalkan bahwa dongeng dalam kaset itu tentang Natal.

Di halaman rumah yang di desa dulu, bapak menanam dua buah pohon cemara di sudut kiri dan kanan. Jelang tahun baru, pernah bapak memasanginya lampu hias. Tentu untuk membuat pohon itu tampak indah di malam hari.

Natal tak asing bagi keluarga kami. Kakak bapak, kami memanggilnya Pakde Frans, adalah seorang Nasrani. Saya tak tahu kapan dia pindah ke agama Kristen, dan cerita tentang itu hanya samar-samar saya dengar. Waktu TK dan SD saya sering main ke rumahnya yang cuma berjarak sekitar 1 kilometer. Ada beberapa patung salib dan lukisan Kristus menghiasi dinding rumahnya.

Tiap Natal, saya dan keluarga bapak lainnya berkunjung ke rumahnya. Suasananya seperti lebaran, ada banyak kue dan makanan. Bedanya, ada pohon Natal hias di rumah itu.

Pakde pun begitu. Ketika Idul Fitri, dia ikut berlebaran dan berkunjung ke rumah keluarga yang Muslim.

Setahu saya, istri dan anaknya tetap Muslim. Maka di rumah itu ada dua hari raya: Lebaran dan Natal.

Lebaran 2014 lalu, hampir semua kakak dan adik bapak datang, termasuk Pakde Frans. Saya kebetulan mudik. Sekalian lebaran, hari itu ibu mengadakan syukuran keluarga sebelum saya berangkat ke Amerika. Tentu saja secara Islami, dan Pakde Frans seperti biasa ikut saja.

Oya, waktu kecil dulu Natal juga berarti Monde butter cookies. Di Palembang bapak punya orang tua angkat. Kalau tak salah namanya Pak Wagiman, seorang guru di sebuah sekolah Kristen. Tiap Natal bapak berkunjung ke rumahnya. Saya ikut serta, dan pulangnya dibawakan sekaleng Monde.

Saya baru mengenal ayat Alquran yang kerap dijadikan dasar umat Islam untuk membenci non-Muslim di Pesantren Ar-Riyadh di Palembang. Bunyinya: “Tidak akan rela kaum Yahudi dan Nasrani sebelum kalian mengikuti agama mereka.” Perlahan, identitas keislaman saya mulai menguat. Sesekali timbul curiga dan ketidaksukaan pada simbol kekristenan, meski tidak tahu sebabnya.

Namun, di Pesantren Pabelan saya ketemu pengalaman lain. Para santri sering diceritakan tentang persahabatan Kiai Hamam Jakfar (pendiri Pondok Pabelan) dan Romo Mangunwijaya (arsitek, rohaniwan, dan sastrawan). Sebuah persahabatan dua orang tokoh agama, pejuang masyarakat dan lingkungan, yang berbeda keyakinan. Beberapa novel Romo Mangun ada di Perpustakaan Pabelan. Novel Burung-Burung Manyar yang paling saya sukai.

Selain itu, di Pabelan saya mulai membaca tulisan-tulisan Cak Nur. Salah satu bukunya yang saya sukai waktu itu: Pintu-Pintu Menuju Tuhan. Perlahan saya mulai memahami bahwa jalan menuju kebenaran tidak tunggal. Islam hanyalah salah satunya. Saya mulai berkenalan dengan ide-ide pluralisme.

Letak Pabelan sendiri di Kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Daerah ini menjadi pusat kristenisasi pertama di Jawa Tengah. F. Van Lith S.J. membuka misi Katolik di Muntilan pada 1896. Sampai sekarang ada banyak gereja dan sekolah Kristen, termasuk Seminari, di Muntilan dan sekitarnya. Tapi, Muslim dan Kristen hidup harmonis. Hingga saat ini, saya tak pernah dengar ada konflik agama di sana.

Suatu ketika, seorang teman di Pabelan, biasa kami panggil Othonk, mengajak saya bertemu dengan seorang Nasrani yang punya usaha sewa komputer di Pasar Muntilan. Saya lupa namanya. Kami mengobrol lama. Dia cerita pengalaman-pengalaman keagamaannya. Kesimpulan dia, “Tuhan itu baik.”

Sebagai remaja yang sedang mencari jati diri, obrolan tentang religiusitas dan penghayatan keagamaan sangat menarik buat kami waktu itu.

Ini musim dingin kedua saya di Amerika. Natal segera tiba, suasana keceriaan sudah terasa. Rumah-rumah dan pertokoan sudah berhias. Sebentar lagi salju menyelimuti Dekalb, hinggap di dahan pohon-pohon cemara sepanjang jalan.

Dulu saya hanya membayangkan kedinginan yang diderita gadis kecil penjual korek api itu. Kini saya tahu rasanya berada di luar rumah dalam suhu minus musim dingin.

Advertisements

2 thoughts on “Natal

  1. Ya, akupun ingat cerita itu. Gadis yang malang..
    Gimana kabar kak test disana? Semoga gak terlalu mellow seperti sang Gadis malang ya. 😉
    Coba dong upload foto2 natal di Amrik. Penasaran nih..
    “Marry Christmas”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s