Santri Jadi Arsitek (1)

Ini cerita dari sahabat saya Meldo Andi Jaya ketika dia menjadi santri di Pondok Pesantren Pabelan. Kini dia adalah seorang arsitek. Pendidikan sarjananya diselesaikan di Jurusan Arsitektur Universitas Sriwijaya, Palembang. Gelar magister tata kota diperolehnya dari Institut Teknologi Bandung pada 2014. Ia adalah satu dari sedikit santri yang berprofesi arsitek.

Tulisan ini dimuat dalam buku “Setengah Abad Pondok Pabelan: Perjalanan Meraih Impian” (2015) dengan judul “Menggapai Cita”.

Meldo Andi Jaya

Menjadi seorang santri di pesantren sebenarnya telah terpikir ketika saya masih SD. Ketika itu saya masih di kelas 5 SD di Palembang. Saya mengungkapkan keinginan untuk merantau di Jawa dan tidak mau sekolah kalau tidak di Jawa ke orang tua.

Tidak teringat apa jawaban orang tua saat itu. Namun setelah menamatkan SD, orang tua menanyakan kembali keinginan sekolah di Jawa. Tanpa ragu saya mengiyakan dan merasa sangat senang karena keinginan saya terkabulkan. Meskipun saya belum tahu ke pesantren mana saya akan dititipkan.

Tahun 1994, awal pertama kali saya menginjakkan kaki di pulau Jawa, melalui perjalanan darat bersama kedua orang tua. Dari Palembang menggunakan kereta api ke Lampung kemudian menyeberang melalui Pelabuhan Bakauheni Lampung. Setelah menyeberangi Selat Sunda, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Gambir guna naik kereta api ke Yogyakarta.

Sampai di Yogyakarta pagi hari, dan perjalanan langsung menuju Muntilan. Di Muntilan menginap satu malam untuk beristirahat dan membeli perlengkapan sehari-hari untuk di pondok. Esok harinya perjalanan menggunakan angkot menuju Desa Pabelan, tempat Pesantren di mana saya akan belajar selama bertahun-tahun.

Dalam perjalanan, saya mendengar sopir bercerita kepada orang tua saya tentang Pondok Pesantren Pabelan. Tidak banyak yang saya ingat pembicaraan mereka. Yang saya ingat, sopir itu memberitahu kalau Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan baru saja meninggal tahun lalu. Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah ternyata Kiai Pondok Pesantren Pabelan sangat terkenal, sampai-sampai sopir angkot pun mengenal beliau.

Setelah beberapa menit di perjalanan, angkot pun berhenti dan sopir memberi tahu kalau kami telah sampai. Yang saya ingat ada papan nama yang menginformasikan letak Pondok Pesantren Pabelan sekian meter jauhnya. Namun rasanya papan nama tersebut tidak sebesar sekarang dengan tulisan yang lebih besar dan jelas.

Perjalanan ke Desa Pabelan dilanjutkan dengan menaiki andong, perjalanan yang unik dan menyenangkan karena saya belum pernah lihat transportasi jenis ini di Palembang, apalagi menaikinya. Mungkin terasa seperti koboi di film-film Amerika.

Sesampai di Pondok Pabelan, saya dikenalkan dengan Kak Mulyadi, santri dari Palembang, yang menjadi bagian penerima tamu di Organisasi Pelajar Putra (OPP) Pondok Pabelan. Beliau banyak membantu dan mengenalkan santri-santri asal Palembang ke saya.

Hari pertama di Pondok terasa sangat asing namun ramai. Terasa sangat berbeda dengan kebiasaan sehari-hari di Palembang. Dari soal menu makan yang kurang cocok di lidah, karena sayur dan lauk di pondok terasa manis, yang tentu kurang cocok dengan lidah orang Palembang yang cenderung menyukai makanan pedas.

Begitu juga udara yang dingin, khususnya di malam hari. Apalagi harus bangun subuh untuk shalat berjamaah, udara terasa sangat dingin ditambah ketika menyentuh air wudhu badan terasa menggigil. Ditambah dengan kondisi masih mengantuk membuat perjalan menuju masjid terasa sekali sangat berat.

Hari kedua di Pondok saya bersama orang tua bejalan-jalan ke Candi Borobudur menggunakan andong dari Batikan. Sekali lagi saya merasakan layaknya koboi Amerika. Perjalanan yang menarik selama menuju candi Borobudur melewati persawahan di sisi kanan dan kiri jalan. Akhirnya sampai juga di Borobudur, candi terbesar di Indonesia menurut buku yang saya baca dan cerita yang saya pernah dengar.

Perjalanan “liburan” yang menyenangkan, atau mungkin perjalanan perpisahan yang saya tidak sadari, karena esok harinya orang tua akan menitipkan saya di Pondok.

Ternyata benar, besok harinya orang tua berpamitan untuk pulang ke Palembang dengan bis di Terminal Muntilan.

Awalnya biasa saja, tidak merasa kehilangan atau merasa ditinggalkan sendirian. Namun setelah shalat Ashar perasaan kehilangan mulai terasa, galau, sedih, kalut menjadi satu. Ingin rasanya menyusul ke Terminal Muntilan dan ikut pulang ke Palembang. Tapi saya urungkan karena saya tidak tahu bagaimana cara menuju terminal dan hanya bisa menangis.

Hari keempat, perasaan sedih dititipkan di pondok sudah tidak begitu terasa lagi. Mungkin karena sudah mendapatkan teman  dan mulai membiasakan diri hidup jauh dari orang tua. Ketika itu, kegiatan belajar mengajar belum dimulai secara formal. Namun sebenarnya kegiatan belajar sudah dimulai dari kamar.

Ketika itu, saya menghuni kamar A di Gedung Presiden. Pengelompokan santri dilakukan berdasarkan umur. Di kamar itu saya tinggal dengan santri-santri lain seumuran saya.

Di kamar itu, saya mulai banyak mengenal santri-santri dari berbagai daerah di Indonesia. Sesuatu yang sangat menyenangkan berkenalan dengan mereka, karena banyak mengetahui budaya dan karakter orang dari daerah lain.

Bersambung ke Santri Jadi Arsitek (2)

 

Advertisements

3 thoughts on “Santri Jadi Arsitek (1)

  1. Pingback: Santri Jadi Arsitek (2) | A day in the life

  2. Pingback: Santri Jadi Arsitek (3) | A day in the life

  3. Pingback: Santri Jadi Arsitek (4) | A day in the life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s