Pabelan dan Mimpi Amerika (1)

Tulisan ini dimuat dalam buku “Setengah Abad Pondok Pabelan: Perjalanan Meraih Impian” (2015).

Tarikh menunjukkan paruh kedua dekade 1990-an.

Bersama ratusan santri lainnya, saya memulai kehidupan baru di Pondok Pesantren Pabelan. Berseragam putih hitam, kami duduk sejajar di alun-alun masjid tua yang berdiri kokoh di jantung pesantren. Semua mata tertuju pada seorang kiai muda di atas podium.

Dalam ceramahnya di Khutbah Iftitah untuk menyambut para santri baru itu, Kiai Ahmad Najib Amin memperkenalkan sejumah alumni yang kala itu telah berkiprah di pentas nasional.

“Contohlah kakak-kakak kalian itu,” demikian pesan Kiai Najib sembari menyebutkan beberapa nama seperti Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan Prof. Dr. Bahtiar Effendy, yang masing-masing memperoleh gelar doktornya di Turki dan Amerika Serikat.

Tujuh belas tahun sudah berlalu sejak saya mendengarkan nasihat itu.

Kini saya sedang menempuh studi tingkat master di Amerika Serikat atas beasiswa dari PRESTASI (Program to Extend Scholarships and Training to Achieve Sustainable Impacts)-USAID (United States Agency for International Development), sebuah program beasiswa milik pemerintah Amerika Serikat untuk anak-anak muda Indonesia.

Di Amerika, saya belajar politik perbandingan di jurusan ilmu politik, Northern Illinois University, di Dekalb, Illionis. Seperti kebanyakan santri lainnya, saya tak pernah membayangkan sebelumnya akan belajar di negeri Paman Sam ini.

Sebuah peristiwa sering kali memiliki akar-akar musabab yang menghunjam jauh ke masa silam.

Ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Pabelan, mimpi Amerika tak pernah hadir secara gamblang. Ia baru saya sadari belakangan, ketika saya coba menyusun penggalan-penggalan kenangan di Pabelan. Dalam kilas balik itu, mimpi Amerika saya temukan tautannya dengan berbagai momen pengalaman menjadi santri di Pondok Pabelan belasan tahun lampau.

Pesan Kiai Najib di Khutbah Iftitah itu adalah momen yang paling awal. Tapi wejangan itu tak hanya muncul sekali itu. Kiai Najib menyampaikan pesan serupa dalam ceramah-ceramahnya di kuliah Subuh, Khutbah Wada’ (khutbah akhir tahun atau perpisahan), dan berbagai kesempatan lain. Dan memang, wejangan yang disampaikan secara terus-menerus dan berulang-ulang itu jadi tak mudah dilupakan.

Di mata kami para santri, Kiai Najib memang sosok kiai sekaligus motivator hebat. Pidatonya lugas dan runut. Intonasi bicaranya lembut namun tegas. Ditambah lagi, ia pandai menyelipkan bumbu cerita dalam ceramahnya. Semua itu membuat pesan-pesannya tak membosankan, mudah dicerna, dan terus diingat.

Bersambung ke Pabelan dan Mimpi Amerika (2)

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Pabelan dan Mimpi Amerika (1)

  1. Pingback: Pabelan dan Mimpi Amerika (2) | A day in the life

  2. Pingback: Pabelan dan Mimpi Amerika (3) | A day in the life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s