Belajar Islam dari Cak Nur

28 Mei 2008-28 Desember 2015

Buku Pintu-Pintu Menuju Tuhan mengantar saya mengenal pikiran-pikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) secara lebih intens. Buku itu saya temukan di Perpustakaan Pondok Pesantren Pabelan. Usia saya waktu itu mungkin sekitar 17-an tahun. Seingat saya, tak banyak santri yang berminat membaca buku itu.

Pintu-Pintu Menuju Tuhan adalah kumpulan kolom pendek yang renyah, padat, dan mudah dipahami, khususnya buat remaja seperti saya.

Sejak itu saya tak hanya mengenal Cak Nur sebagai tokoh yang mashur dengan semboyan “Islam yes, partai Islam no.” Tapi, pemikir Muslim yang mengantarkan saya menemukan Islam “yang lain”. Buat saya ketika itu, Islam Cak Nur adalah “Islam yang dipikirkan”. Sesuatu yang baru buat saya.

Islam yang dipikirkan ini berbeda dengan “Islam ritual”. Saya, juga mungkin kebanyakan pemeluk-teguh Islam lainnya, berangkat dari Islam yang berisi ajaran-ajaran ritual-formal. Inilah Islam yang berisi shalat, zikir, doa, dan berbagai praktik ritual lain.

Namun, Islam model begini ternyata hanya cukup untuk memenuhi dahaga batin dan keresahan psikologis. Mungkin disebabkan oleh modernitas yang menggebu atau akibat rutinitas duniawi yang meletihkan.

Pada Islam yang dipikirkan, saya menemukan Islam yang memberi ruang pada dialog. Islam sebentuk ini adalah agama yang memberi tempat bagi individu untuk menatap Tuhan dan bertanya secara kritis. Islam tak lagi hanya arus yang menyeragamkan, yang menuntut sikap patuh (taklid) pada otoritas ulama, serta kitab-kitab klasik yang berisi ajaran ritual Islam yang baku.

Islam yang dipikirkan tidak sibuk oleh persoalan hari-setelah-kematian (kiamat) dan balasan apa yang bakal diperoleh. Bagi saya, ini Islam yang mendunia, namun tak ingin masuk ke segala aspek kehidupan manusia. Ia hadir secukupnya, di momen-momen ketika seseorang menginginkan agama hadir secara personal.

Pendeknya, ini model Islam yang tidak “congkak”: ia bukan Islam yang mengklaim mampu menjawab segala problematika kehidupan.

Dalam Islam ritual, orang berlari dari dunia lantas menenangkan diri dalam berbagai praktik ritual. Dalam Islam yang dipikirkan, orang menghadapi kehidupan dengan mengedepankan nalar, tanpa harus mendasarkan diri pada doktrin agama.

Dalam Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Cak Nur mendiskusikan konsep-konsep dasar dan penting dalam Islam secara rasional. Di antaranya: Islam, tauhid, din, takwa, iman, hanif. Cak Nur mengajarkan bahwa Islam itu tidak dangkal namun juga tidak njelimet. Saya ingin menyebutnya sebagai Islam yang sederhana namun canggih.

Kegairahan pada Islam yang dipikirkan mengantarkan saya untuk lebih banyak lagi membaca suara-suara Islam di luar ritualisme. Di Perpustakaan Pabelan itu, saya menemukan pembacaaan sufistik atas Islam ala Rumi dan Iqbal. Pintu-Pintu Menuju Tuhan tidak saja membuat saya menemukan Islam yang dipikirkan, tapi mendorong saya untuk menjadi Muslim yang berpikir, membaca, dan terbuka.

Saya jadi merasa lebih ringan menerima suara-suara Islam di luar mainstream. Saya juga jadi bisa menerima orang lain yang tidak seiman dengan sikap yang positif dan tanpa kebencian. Inilah yang oleh Cak Nur disebut dengan Islam inklusif.

Ketika kuliah di UIN Jakarta, saya mengenal Islam yang dipikirkan ini sebagai “Islam substansialis” atau “Islam substantif”. Inilah Islam yang, dalam konteks Indonesia, menurut Indonesianis R. William Liddle dicirikan dengan: (1) mengutamakan substansi (isi keyakinan) daripada bentuk; (2) menafsirkan Alquran dan hadis sesuai dengan kondisi aktual umat; (3) mengakui Indonesia dengan Pancasilanya sebagai final; (4) karena tak mungkin mencapai pemahaman yang mutlak tentang kehendak Tuhan, maka bersikap toleran terhadap sesama, termasuk non-Muslim sekalipun.

Poin yang keempat sangat penting dalam konteks hubungan sosial dan kebangsaan. Toleransi tidak saja bermakna menghormati hak kebebasan orang lain yang berbeda paham, tapi sekaligus menjadi fondasi bagi Islam yang rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Suatu ketika Gandhi pernah ditanya, “Bila hanya ada satu Tuhan, tidakkah seharusnya hanya ada satu agama saja?” Gandhi menjawab, “Sebatang pohon punya sejuta daun. Ada banyak agama sebagaimana ada banyak pria dan wanita, tapi semua berakar kepada Tuhan.”

Agama ibarat sebuah pohon dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan daun aliran dan sekte. Tuhan yang Esa laksana sebuah rumah yang bisa dimasuki dari banyak pintu—dan ini agaknya salah satu yang hendak disampaikan Cak Nur lewat Pintu-Pintu Menuju Tuhan. Tuhan bisa didatangi lewat: Sunni, Syi’ah, Ahmadiyah, Wetu Telu; NU, Muhammadiyah, Persis. Bahkan, Ia bisa disapa lewat Islam, Kristen, Hindu, Yahudi.

Kebebasan manusialah, mestinya, yang menentukan pintu mana yang akan dipilihnya.

Menguatnya dorongan untuk menampik pintu-pintu lain sembari mengkafirkannya adalah wujud dari sikap tertutup. Oleh Cak Nur, itu disebutnya sebagai “eksklusivisme sektarianis”, yaitu hanya mengakui golongan sendiri yang paling benar dan lainnya salah. Cak Nur mengutip ayat Alquran: “Wahai sekalian orang beriman! Janganlah suatu golongan menghina golongan (lain), kalau-kalau mereka (yang dihina) itu lebih baik daripada mereka (yang menghina)…” (QS. Al-Hujurat: 49; 11).

Lewat Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Cak Nur mengajarkan saya Islam yang dipikirkan: sebuah Islam yang substantif, inklusif, dan pluralis.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s