Santri Jadi Arsitek (2)

Ini cerita dari sahabat saya Meldo Andi Jaya ketika dia menjadi santri di Pondok Pesantren Pabelan. Kini dia adalah seorang arsitek. Pendidikan sarjananya diselesaikan di Jurusan Arsitektur Universitas Sriwijaya, Palembang. Gelar magister tata kota diperolehnya dari Institut Teknologi Bandung pada 2014. Ia adalah satu dari sedikit santri yang berprofesi arsitek.

Tulisan ini dimuat dalam buku “Setengah Abad Pondok Pabelan: Perjalanan Meraih Impian” (2015) dengan judul “Menggapai Cita”.

Sebelumnya Santri Jadi Arsitek (1)

Meldo Andi Jaya

Di Pabelan, bisa dikatakan pelajaran dan pendidikan pertama dimulai dari kamar. Dari membiasakan menyiapkan keperluan sehari-hari, pengenalan organisasi sampai pelajaran berbahasa asing. Semuanya diajarkan dan langsung dipraktekkan mulai dari kamar.

Setiap kamar diasuh oleh kakak kelas lima. Pengasuh kamar biasa disebut mujanib, artinya pendamping. Mujanib saya waktu itu adalah Kak Muntazirin asal Jambi dan santri melaju Kak Fathur dan Kak Ahmad Faisal. Pembelajaran bahasa asing, Arab dan Inggris, dimulai dengan menghapal kosakata yang diberikan oleh mujanib.

Awalnya terasa berat karena ini adalah pertama kali belajar bahasa asing. Sebanyak lima kosakata harus dihapalkan dalam satu hari, dan setiap malam akan diuji oleh mujanib setiap habis shalat Isya. Mujanib selalu menambah hapalan kosakata untuk malam selanjutnya.

Kegiatan menghapal sebanyak mungkin kosakata merupakan langkah awal dalam menyiapkan santri untuk berbicara bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Sehingga, beberapa bulan selanjutnya para santri sudah bisa diwajibkan menggunakan percakapan bahasa asing setiap hari.

Kewajiban menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari merupakan salah satu yang membuat saya merasa berat menjalani pendidikan di Pondok. Namun, berbicara berbahasa asing harus dipaksa, tak peduli tata bahasa benar atau salah, yang penting bisa dipahami.

Pondok mempunyai strategi yang cukup unik untuk memudahkan santri menghapal kosakata. Caranya, di pagi hari setelah shalat Subuh, para santri diajak meneriakkan berulang-ulang kosakata itu, sehingga terus diingat.

Persoalan bahasa memang menjadi hal yang menakutkan untuk santri kelas satu. Apalagi harus menggunakannya dalam latihan pidato (muhadharah). Memang beberapa bulan pertama santri dilatih berpidato menggunakan bahasa Indonesia. Namun, beberapa bulan selanjutnya harus menggunakan bahasa Arab dan Inggris.

Untuk santri kelas satu, latihan pidato yang diadakan dua kali dalam seminggu menjadi hal yang mengerikan dan tidak diharapkan. Jika mendapat jadwal berpidato, bisa membuat kalut. Ada beberapa teman yang mencoba mencari alasan untuk tidak hadir di malam muhadharah.

Kesulitan berpidato dalam menggunakan bahasa Arab dan Inggris terjadi sampai awal kelas dua. Setiap mendapat jadwal pidato saya mengalami kesulitan, terutama dalam menulis draf pidato. Karena tidak ada yang mengkoreksi sebelum dihapalkan.

Untungnya, ketika itu Ustad Zamharir, yang juga pengajar bahasa Arab di kelas, memberikan bantuan untuk mengoreksi draf pidato yang sudah saya buat. Baik itu bahasa Arab atau bahasa Inggris. Ketika itu beliau menyediakan sejenis kotak surat di gedung Alhambra. Jadi, setiap saya mendapatkan jadwal pidato, draf pidato saya masukkan ke kotak. Kemudian beliau koreksi dan diberikan kembali esok harinya.

Bimbingan Ustad Zamharir membuat saya tertarik belajar bahasa Arab. Pelajaran bahasa Arab (Tamrinul Lughah) di kelas dapat saya ikuti dengan baik, dan mendapatkan nilai yang cukup baik. Di samping itu, Ustad Bahar banyak membimbing dalam belajar bahasa Inggris sehingga pelajaran bahasa Inggris menjadi pelajaran favorit.

Ketika kelas satu, kedua pelajaran ini terasa sangat sulit. Ketertarikan akan belajar bahasa Arab dan Inggris menjadikan muhadharah yang awalnya merupakan kegiatan yang menakutkan menjadi sebuah tantangan dan kegiatan yang menarik.

Masa di kelas dua dan tiga menjadi masa belajar yang menyenangkan bagi saya. Persoalan bahasa bukanlah menjadi hambatan lagi. Justru dengan belajar bahasa Arab pelajaran lainnya yang berbahasa Arab menjadi lebih mudah, seperti pelajaran fikih misalnya.

Bisa dikatakan, kelas satu, dua, dan tiga merupakan periode awal pembentukan jati diri dan ketertarikan akan bidang tertentu. Setelah menyelesaikan kelas tiga para santri akan memilih bertahan di Pondok atau melanjutkan pendidikan di luar Pondok.

Seleksi tahap awal terjadi secara alamiah. Setalah EBTANAS (UN) kelas tiga MTs banyak santri yang memilih untuk melanjutkan pendidikan sekolah umum. Sementara yang bertahan di Pondok sangatlah sedikit. Seingat saya yang tetap memilih belajar di Pondok hanya saya, Suratmin, Ahmad Rifai, Suharsoyo, Heru Susanto, Fajri Rahmadiansyah, Kristianto, Sulistianto, dan Fikri al-Amin.

Setelah EBTANAS saya kembali ke Palembang untuk liburan akhir tahun ajaran. Godaan untuk melanjutkan pendidikan di luar Pondok sempat membuat bingung. Apalagi bujukan dan cerita kakak tentang SMA-SMA favorit di Palembang sungguh menyenangkan. Kebetulan nilai EBTANAS saya memenuhi standar nilai untuk diterima di SMA tersebut.

Meski sempat galau, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Pabelan dengan pertimbangan yang sangat sederhana: jika memilih sekolah di Palembang akan membuat saya sulit untuk kembali ke Jawa.

Masuk di kelas empat merasakan suasana baru karena kelas digabung dengan santri-santri dari kelas Takhasus. Ini adalah kelas transisi buat siswa lulusan SMP/MTs di luar Pondok yang ingin melanjutkan SMA/Aliyah di Pondok. Awalnya memang ada sedikit egois karena saya dan teman-teman satu angkatan dari kelas satu merasa lebih dulu masuk Pondok dibanding santri-santri yang dari Takhasus yang baru setahun di Pondok.

Namun, perlahan sikap egoistis itu hilang dengan sendirinya karena kehidupan sehari-hari di kamar yang menyatu dan membaur tanpa melihat angkatan.

Bersambung ke Santri Jadi Arsitek (3)

 

Advertisements

One thought on “Santri Jadi Arsitek (2)

  1. Pingback: Santri Jadi Arsitek (1) | A day in the life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s