Santri Jadi Arsitek (3)

Ini cerita dari sahabat saya Meldo Andi Jaya ketika dia menjadi santri di Pondok Pesantren Pabelan. Kini dia adalah seorang arsitek. Pendidikan sarjananya diselesaikan di Jurusan Arsitektur Universitas Sriwijaya, Palembang. Gelar magister tata kota diperolehnya dari Institut Teknologi Bandung pada 2014. Ia adalah satu dari sedikit santri yang berprofesi arsitek.

Tulisan ini dimuat dalam buku “Setengah Abad Pondok Pabelan: Perjalanan Meraih Impian” (2015) dengan judul “Menggapai Cita”.

Sebelumnya Santri Jadi Arsitek (1) dan Santri Jadi Arsitek (2)

Meldo Andi Jaya

Di kelas empat (kelas satu Aliyah), nilai saya menurun. Padahal, di masa ini pilihan melanjutkan pendidikan setelah dari Pondok mulai terpikirkan. Sempat terpikir bahwa tidak memilih sekolah di Palembang adalah suatu kesalahan, karena melihat kebanyakan santri yang tamat dari Pondok melanjutkan ke IAIN. Dan Pondok tidak menyiapkan para santri untuk mampu bersaing ke PTN.

Perasaaan menyesal karena tidak memilih sekolah di SMA semakin menjadi ketika memasuki kelas lima. Saya merasa pelajaran umum yang diajarkan di Pondok tidak membuat saya siap untuk melanjutkan pendidikan di PTN. Padahal saya lebih tertarik untuk melanjutkan kuliah di jurusan non-agama.

Kondisi ini semakin membuat saya khawatir akan masa depan, sehingga saya mengutarakan ke orang tua untuk keluar dari Pondok dan berniat untuk sekolah SMA di Yogyakarta. Apalagi saya melihat ada santri Pondok Pabelan yang melanjutkan sekolah di Yogyakarta setelah kelas empat, dan masih sering mengunjungi Pondok sehingga membawa cerita-cerita kehidupan yang terdengar menyenangkan sekolah di sekolah umum.

Mendengar alasan saya, akhirnya orang tua menyetujui niat saya untuk melanjutkan sekolah di Yogyakarta dengan syarat setelah kelas lima. Namun untuk kesekian kalinya saya urungkan niat keluar dari Pondok. Dengan alasan rasa kebersamaan di Pondok membuat saya betah tinggal di Pondok.

Bisa dikatakan, menjadi santri kelas lima adalah hal yang paling menyenangkan di masa mondok. Di masa inilah para santri diberikan tanggung jawab lebih besar karena manjabat pengurus Organisasi Pelajar Putra (OPP) yang merupakan organisasi santri yang paling tinggi. Layaknya pemerintahan kecil, OPP adalah lembaga eksekutif yang mengatur kegiatan sehari-hari santri. Seluruh aktivitas keseharian para santri dijalankan dan dimonitor dari Gedung Nusa Damai, bangunan lama yang berdinding anyaman bambu dan berlantai semen.

Di OPP, yang diketuai oleh Testriono, saya dipilih untuk mengemban Bagian Penggerak Bahasa bersama-sama dengan Kristianto, yang merupakan bagian baru di OPP. Masa-masa di OPP adalah masa-masa di mana dididik menjalankan organisasi dengan kerja sama, kesetiakawanan, dan tanggung jawab.

Di samping sebagai pengurus OPP, saya juga aktif di Buletin Dialog, majalah Pondok yang memperkenalkan saya tentang dunia jurnalistik. Kegiatan ini sangat menyenangkan, apalagi ketika masa pencetakan buletin. Ketika itu pencetakan buletin dilakukan di Yogyakarta. Ini merupakan kesempatan untuk keluar Pondok sambil jalan-jalan ke Yogyakarta. Apalagi ketika pengambilan cetakan buletin, percetakan sering memberikan ongkos untuk sekadar makan-makan. Biasanya yang mengambil cetakan buletin saya dan Testriono, kesempatan itu kami gunakan untuk makan pempek di seputaran Malioboro, sekedar mengobati rasa kangen makanan tradisional Palembang sambil menikmati sore hari di jalan Malioboro.

Masa-masa kelas enam, kekhawatiran untuk melanjutkan pendidikan di luar Pondok semakin terasa, apalagi tidak adanya les tambahan persiapan EBTANAS membuat beban menghadapi EBTANAS sangat berat. Saat itu ada juga santri yang mendapat izin mengikuti les tambahan di Muntilan. Untuk menyiasati kekurangan jam belajar dan modul pelajaran dalam menghadapi EBTANAS, saya belajar dari buku soal-soal EBTANAS bekas milik kakak saya yang dibawa dari Palembang dan meminjam modul soal-soal dari teman-teman yang mengikuti les bimbingan belajar di Muntilan.

Meski demikian, tetap saja saya merasa tidak siap dalam menghadapi EBTANAS. Bahkan, ada kekhawatiran tidak akan lulus EBTANAS. Pada akhirnya kekhawatiran tersebut tidak terjadi setelah pengumuman hasil nilai EBTANAS di Perpustakaan. Namun, nilai yang saya peroleh sangat mengecewakan. Nilai mata pelajaran yang diharapkan dapat mendongkrak nilai yang kecil, seperti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, juga tidak banyak membantu. Justru nilai bahasa Inggris sedikit lebih besar dibanding bahasa Indonesia.

Hasil nilai EBTANAS yang kurang baik itu menjelaskan ketidaksiapan saya dalam mengikuti UMPTN. Bagi santri, berperan di masyarakat atau mengikuti UMPTN merupakan langkah selanjutnya yang sangat penting setelah dinyatakan lulus EBTANAS. Karena ini merupakan langkah awal bidang yang akan ditekuni di masyarakat nantinya.

Mengikuti UMPTN dan bisa lulus menjadi harapan saya, apalagi ketertarikan saya untuk menekuni bidang non-agama. Harapan dapat kuliah di jurusan umum di PTN ibarat pepatah mengatakan jauh panggang dari api. Tekanan juga datang ketika orang tua menanyakan rencana lulus dari Pondok. Pertanyaan yang sulit dijawab jika melihat dari nilai EBTANAS. Perasaan bingung, khawatir, dan tidak ada arah ke mana tujuan setelah lulus dari Pondok.

Setelah pengumuman kelulusan, para santri kelas enam dikumpulkan dan mendapatkan amplop yang berisikan kertas rencana setelah tamat dari Pondok. Ada dua pilihan, yaitu pertama: mengabdikan diri di Pondok; kedua: melanjutkan peran di luar Pondok. Pada saat itu saya memilih pilihan pertama bersama Kristianto, Fajri Rahmadiansyah, Rahmad Syaumi, Amriludin, Heru Susanto, M. Rifai dan beberapa santri melaju.

Pada awalnya, orang tua sempat mempertanyakan keputusan itu karena akan menghabiskan satu tahun lagi di Pondok. Namun setelah diberi penjelasan bahwa dengan mengabdi saya bisa mempersiapkan satu tahun untuk menghadapi UMPTN, pada akhirnya orang tua menyetujui.

Bersambung ke Santri Jadi Arsitek (4)

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Santri Jadi Arsitek (3)

  1. Pingback: Santri Jadi Arsitek (2) | A day in the life

  2. Pingback: Santri Jadi Arsitek (4) | A day in the life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s