Iqra

Pertengahan Agustus 2014. Belum genap seminggu saya berada di Amerika. Sambil menunggu urusan kontrak apartemen beres, saya tinggal beberapa hari di hotel Holmes Student Center NIU.

Sore itu, dia datang menyambangi saya. “Halo, Mas. Saya Iqra,” katanya memperkenalkan diri. Rambutnya gondrong, memakai jeans belel dan kaos batik gombrang, serta memakai sandal.

Itulah kali pertama saya berjumpa dengan Iqra. Tak saya duga, penampilannya sederhana.

Sebelumnya saya memang sudah berkomunikasi dengannya lewat facebook dan email. Sedikit tanya-tanya tentang Dekalb. Dalam beberapa kali pertemuan di UIN Jakarta, Sirojuddin Arif, kandidat doktor ilmu politik NIU, sering menyebut namanya.

Selebihnya, saya mengenal namanya sepintas sebagai editor Harian Indoprogress.

Ia masih muda, bahkan teramat muda untuk ukuran mahasiswa Ph.D Ilmu Politik di Amerika. Pertama kali bertemu itu, usianya masih 23 tahun. Barangkali sebagian besar perjalanan hidupnya dihabiskan untuk sekolah: SMP dan SMA akselerasi di Jakarta selepas SD, lalu sarjana dan master di Jepang, kemudian master kedua di Ohio University, dan terakhir Ph.D di NIU.

Teman-teman di Dekalb sering menyebut dia “orang baik”.

Memang betul. Di NIU, Iqra adalah salah seorang yang banyak membantu saya, terutama di awal-awal mulai kuliah. Mulai dari mengantar bikin akun bank, buat kartu mahasiswa, mengenalkan perpustakaan, gedung kuliah, dan banyak lainnya. Kebetulan, Summer 2014 itu ia tidak pulang ke tanah air. Di musim liburan itu, ia justru menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan untuk persiapan ujian komprehensif di Fall 2014.

Semester pertama adalah masa transisi yang berat buat saya, khususnya beradaptasi dengan lingkungan dan situasi belajar yang baru. Hampir tiap hari saya di perpustakaan, menyelesaikan reading atau bikin paper. Di sanalah saya kerap ketemu Iqra. Dia satu-satunya mahasiswa Indonesia yang lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan ketimbang di apartemen. Karena itu, untuk ketemu dia mudah saja. Kalau sedang tak ada kelas, dia pasti ada di perpustakaan.

Di semester pertama, saya sering minta dia mengomentari paper-paper saya sebelum saya kumpulkan. Maklum, sarjana saya adalah sejarah. Karena itu saya butuh teman yang bisa memberi pendapat apakah paper saya sudah memenuhi standar ilmu politik.

Teman-teman di Dekalb sering mencandainya sebagai lelaki “sempurna”: muda, cerdas, tampan, dan pandai menyanyi. Ya, tiap karaokean di rumah Pak Tunru, “lurah” warga Indonesia di Dekalb, dia pasti menyumbangkan beberapa lagu. Dan menurut saya, suaranya yang paling oke di seantero Dekalb.

Tapi, ini kekurangan dia yang kerap bikin “kontroversi”:  belum punya pacar.

Iqra sangat rajin belajar. Mungkin sesuai namanya, yang berarti “membaca.” Seorang profesor di Departemen Ilmu Politik NIU bahkan memuji keseriusan dan ketekunannya. Tak hanya itu, ia juga cukup produktif menulis. Beberapa artikelnya terbit di jurnal. Di antara mahasiswa pasca-sarjana ilmu politik NIU, saya kira Iqra salah seorang yang paling produktif menulis.

Ketika bertemu beberapa teman dari Ohio University di Southeast Conference Association for Asian Studies, di James Madison University, Januari lalu, mereka bilang tahu Iqra, meski belum pernah ketemu. Kecerdasannya jadi buah bibir mahasiswa-mahasiswa Indonesia di sana.

Saya pernah tanya, dengan prestasi dan keunggulan yang dimiliki itu, mengapa dia tidak mencoba menulis buku motivasi. Belakangan, memang, banyak sarjana Indonesia lulusan luar negeri menerbitkan buku kiat-kiat memperoleh beasiswa dan kuliah di luar negeri, otobiografi, atau novel perjalanan. Dia menjawab, “Tugas seorang intelektual itu menerbitkan tulisan di jurnal, bukan bikin buku motivasi.”

Satu hal lagi, Iqra adalah seorang Marxis, kiri, dalam arti yang sebenar-benarnya. Saya kira dia belajar otodidak untuk hal ini, karena nyaris tak ada bacaan kiri di silabus-silabus di kelas. Dia menguasai pemikiran filsafat, sosial, dan politik beraliran Marxis, dan bisa banyak bicara tentang itu.

Ia pernah menulis, “Apabila kita mendaku sebagai seorang materialis historis yang militan, maka sudah sepatutnya kita melacak sejarah aspirasi kemerdekaan kepada sumbernya: pengalaman historis massa-rakyat” (Indoprogress, 14 Agustus 2015)

Melihat usianya, saya kira pas betul dengan joke dari Arief Budiman yang sering saya dengar dari intelektual Indonesia: “Kalau di usia 20 Anda tidak kiri, Anda tidak punya hati. Tapi kalau sudah berumur 40 Anda masih kiri, Anda tak punya otak.”

Dalam tiap kesempatan ngobrol, ia selalu semangat berdiskusi tentang pemikiran dan gerakan kiri ini. Tapi, yang paling kentara adalah dalam esai-esainya di Indoprogress. Menyikapi upaya penggusuran pemerintah DKI Jakarta terhadap warga Kampung Pulo, misalnya, dia menulis begini: “Solusinya hanya satu: pembangunan front bersama yang menyatukan isu-isu kota dan desa dan kepentingan-kepentingan lapis-lapis masyarakat yang tertindas yang hidup di dalamnya. ….. Karena, kalau tidak, maka perampasan akan semakin merajalela dan tembok-tembok penanda ‘apartheid baru’ akan semakin terpancang. Karena, hanya perjuangan kita yang akan menjamin masa depan kita” (Indoprogress, 11 September 2015).

Kini, Iqra sedang melakukan studi lapangan untuk disertasinya tentang gerakan petani. James C. Scott, ilmuwan politik yang menggunakan pendekatan antropologi dalam studi-studinya tentang petani, adalah role model-nya. Beruntungnya, dia dapat fellowship dari sebuah lembaga riset di Harvard University yang memberinya kesempatan untuk tinggal dan riset di perdesaan. Sesuatu yang dia cita-citakan.

Dalam satu surat dalam blognya, yang ditulis untuk ibunya, dia menulis, “Ada tugas penting yang harus ditempuh. Tugas terhormat, yaitu belajar bersama rakyat, menghidupi penghidupan rakyat. ….. Kita perlu berjuang, melawan tatanan dunia yang lama, untuk mewujudkan dunia yang baru, yang bebas, adil, bersih dari penindasan dan ketidakadilan, seberapa utopis dan susahnya itu. Bukankah itu adalah cita-cita universal sebagaimana termaktub dalam semboyan Revolusi Perancis: Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan?” (20 September 2015).

Sudah lebih enam bulan Iqra meninggalkan Dekalb. Beberapa teman bilang, tiap kumpul-kumpul terasa kurang lengkap tanpa kehadirannya.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s