Noer

18 Juni 2008-31 Januari 2016

Saya masih santri di Pabelan ketika mengenal pertama kali nama Deliar Noer.

Saat itu, saya mungkin kelas 4 atau 5 (setingkat 1 atau 2 SMU). Bu Nur, begitu kami biasa memanggil Ibu Nurhayati, guru sejarah yang penyabar itu, memperkenalkan sebuah buku bersampul hitam yang tak menarik: Gerakan Moderen Islam di Indonesia: 1900-1942. Penulisnya Deliar Noer. Buku itu selalu dibawanya tiap kali mengajar.

Bu Nur tak mewajibkan siswa-siswanya untuk membeli buku itu. Dia juga tak memfoto kopi bagian-bagian tertentu dari buku itu untuk dibagikan kepada siswa. Yang pasti, banyak materi pelajaran yang disampaikan Bu Nur bersumber dari buku Deliar Noer itu. Buku itu membuat Bu Nur cukup fasih menjelaskan gerakan Islam sebelum kemerdekaan.

Jauh di kemudian hari saya akhirnya tahu bahwa buku Deliar Noer itu merupakan salah satu buku wajib bagi mahasiswa sejarah. Kebetulan saya kuliah di jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Jakarta, kampus dan jurusan yang sama dengan Bu Nur. Zaman Bu Nur kuliah, namanya masih Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).

Pilihan kuliah di jurusan sejarah sebenarnya baru datang kemudian.

Dulu saya tak pernah berpikir serius untuk kuliah di jurusan sejarah. Waktu gerakan Reformasi 1998 muncul dan lantas berhasil menjatuhkan rezim Soeharto, saya masih sekolah di Pondok Pabelan. Berita-berita tentang gerakan Reformasi itu saya ikuti dari jauh, lewat koran dan televisi.

Saya juga mendengar sejumlah pemuda Desa Pabelan, termasuk beberapa teman sekelas yang santri melaju, turut serta dalam demo-demo di sekitar Reformasi 1998 itu. Selain itu, lewat buku-buku dan kliping majalah dan koran di Perpustakaan Pabelan saya sedikit banyak membaca tentang politik Indonesia.

Nama-nama seperti Amien Rais, Sri Bintang Pamungkas, Eef Saefullah Fatah, dan Anas Urbaningrum, adalah beberapa di antara yang kerap muncul di koran hari-hari itu. Minat saya pada politik tumbuh pesat, dan itu mendorong saya untuk ikut UMPTN dan mengambil jurusan politik.

Tapi sebenarnya saya lebih dulu berkenalan dengan sejarah, dan itu lewat bapak. Di rumah, di rak bukunya, ada beberapa buku sejarah, seperti Sejarah Indonesia dan Sejarah Dunia. Ada pula beberapa biografi atau otobiografi, seperti Memenuhi Panggilan Tugas (karya A.H Nasution) dan Profil Seorang Prajuri TNI (Ahmad Yani). Buku-buku itu turut saya baca.

Saya pernah tanya, “Apakah Bapak pernah punya buku Di Bawah Bendera Revolusi?” Dia cerita, waktu pecah peristiwa 1965, buku itu dikuburnya. Untuk menghindari tangkapan tentara waktu itu, semua yang berbau Soekarno ia musnahkan. Ia memang pendukung Soekarno, dan tentu saja sangat anti Soeharto.

Selain itu, minat saya pada sejarah tumbuh di SD lewat Pak Zulkifli. Dia guru sejarah waktu itu, dan pernah meminjamkan buku profil pahlawan-pahlawan nasional. Saya senang membacanya, dan sempat membuat catatan atau memfotokopinya. Tak ingat betul.

Setelah gagal UMPTN, saya akhirnya mendaftar UIN Jakarta dan mengambil jurusan sejarah. Cita-cita belajar ilmu politik untuk sementara saya lupakan. Di kelas, saya bertemu dengan buku Deliar Noer itu.

Yang buat saya kagum, sumber-sumber referensi buku Deliar Noer itu lengkap dan sebagian besar merupakan sumber primer. Pahamlah saya betapa tekun dan seriusnya Deliar Noer dalam menerapkan metode sejarah pada penelitiannya itu.

Buku tersebut sesungguhnya merupakan disertasinya untuk meraih gelar doktor ilmu politik di Cornell University. Deliar Noer memang menjadi doktor politik pertama di Indonesia. Disertasi itu telah mengantarkannya menjadi seorang ilmuwan sosial yang disegani. Lebih-lebih, Gerakan Moderen Islam layak disejajarkan dengan buku Pemberontakan Petani Banten-nya Sartono Kartodirdjo yang mengagumkan itu.

Gerakan Moderen Islam menjadi buku pertama yang menempatkan umat Islam pada posisi sentral dalam sejarah pergerakan nasional. Sebelumnya, sejarah Indonesia modern didominasi karya-karya sejarah dan historiografi yang menempatkan nasionalisme sekular di titik sentrum. Salah satunya karya Kahin, Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. Dalam karya itu, kontribusi umat Islam dalam gerakan kemerdakaan tak tampak jelas. Gerakan Moderen Islam menjadi kritik bagi perspektif tersebut. Dengan hadirnya buku itu, penjelasan lahirnya Indonesia pada awal abad ke-20 melalui organisasi pergerakan modern menjadi multiperspektif.

Tipologi “Islam tradisionalis” dan “Islam modernis”, salah satu teori utama yang dikemukakan Noer dalam Gerakan Moderen Islam, dijelaskan secara mendetail dan lengkap melalui berbagai organisasi dan pemikiran para tokoh masing-masing kubu. Ini merupakan peta-jalan yang pertama kali dibuat oleh sarjana Indonesia dalam menerangkan Islam di Indonesia modern hingga menjelang kemerdekaan. Dikotomi tersebut masih merupakan kutipan utama bagi sarjana-sarjana sesudahnya bahkan hingga kini.

Melalui Gerakan Moderen Islam pula perdebatan apakah Budi Utomo yang layak menjadi awal bagi kebangkitan nasional Indonesia ataukah Sarekat Islam menjadi hangat dan menemukan acuan sumber historisnya. Noer menunjukkan, Sarekat Islam berdiri beberapa tahun lebih awal, dengan misi politik yang jelas dan jangkauan organisasi yang menasional.

Sebuah tulisan memang bisa berbicara lebih banyak dan abadi daripada ucapan. Selama Islam di Indonesia masih dikaji, selama itu pula karya Deliar Noer akan menjadi rujukan. Betapa beruntungnya dia. Deliar Noer, sang pemula itu memang telah pergi. Bukan namanya yang membuatnya terus dikenang, tapi karyanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s