Santri Jadi Arsitek (4)

Ini cerita dari sahabat saya Meldo Andi Jaya ketika dia menjadi santri di Pondok Pesantren Pabelan. Kini dia adalah seorang arsitek. Pendidikan sarjananya diselesaikan di Jurusan Arsitektur Universitas Sriwijaya, Palembang. Gelar magister tata kota diperolehnya dari Institut Teknologi Bandung pada 2014. Ia adalah satu dari sedikit santri yang berprofesi arsitek.

Tulisan ini dimuat dalam buku “Setengah Abad Pondok Pabelan: Perjalanan Meraih Impian” (2015) dengan judul “Menggapai Cita”.

Sebelumnya Santri Jadi Arsitek (1)Santri Jadi Arsitek (2), dan Santri Jadi Arsitek (3).

Meldo Andi Jaya

Di Pondok, santri yang mengabdi akan diberi tanggung jawab mengajar dengan mengemban mata pelajaran tertentu. Semua teman-teman yang mengabdi mengemban setidaknya satu mata pelajaran, kecuali saya. Awalnya, sempat juga bertanya pada diri sendiri kenapa hanya saya yang tidak mengemban mata pelajaran. Saya jadi merasa akan banyak menganggur selama satu tahun di Pondok. Mungkinkah keputusan mengabdi adalah keputusan yang salah?

Namun “kekurangberuntungan” itu saya anggap sebagai peluang. Setidaknya saya mempunyai waktu lebih untuk mempersiapkan UMPTN dan bisa merencanakan mengikuti les persiapan UMPTN di Muntilan. Sayangnya, teman-teman menyadari kalau cuma saya yang tidak mengajar, dan akhirnya memberikan “hiburan” dengan menunjuk saya sebagai ketua TPA di Pondok.

Masa pengabdian saya lalui di gedung sebelah timur, di samping rumah K.H. Ahmad Mustofa. Saya tinggal bersama Fajri Rachmadiansyah, Kristianto dan Mawardi. Mengelola TPA sedikit banyak menguras waktu, sehingga rencana untuk mengikuti les di Muntilan tidak terwujud. Meskipun demikian, saya sempat mengikuti les intensif persiapan UMPTN beberapa bulan sebelum UMPTN. Saya merasa belum terlalu menguasai materi soal-soal UMPTN terutama pelajaran IPA, yang memang ketika di Pondok dirasa sangat kurang.

Satu tahun dilalui dengan mulai mempelajari soal-soal UMPTN dan modul-modul soal yang dipinjam dari Fajri yang telah lebih dulu mengikuti les di Muntilan. Kebetulan saya sempat membaca berita-berita di koran langganan Pondok, Republika, yang membahas tentang santri di salah satu pondok pesantren yang lulus UMPTN di jurusan favorit di PTN favorit. Ini memotivasi dan meningkatkan kepercayaan diri saya. Ternyata santri juga mampu tembus UMPTN yang selama ini didominasi oleh siswa sekolah umum.

Masa kelas enam dan pengabdian setahun membuat pencarian tujuan setelah tamat dari Pondok menjadi pertanyaan yang selalu menghantui. Mau kemana tujuan saya setelah ini? Melanjutkan kuliah di IAIN atau PTN? Kuliah di Jawa atau pulang ke Palembang?

Memang tidak mudah bagi santri untuk bisa kuliah di PTN, apalagi dengan jam pelajaran umum di kelas yang sangat kurang.

Saat itu, sedang ada pembangunan gedung kelas baru atas bantuan pemerintah Jepang. Melihat proses pembangunan gedung tersebut setiap hari menarik saya untuk mengamatinya. Suatu hari, ketika sedang mengamati pembangunan gedung, datang seorang ustad yang mengajar bahasa Inggris. Katanya, “Enak kerja jadi kontraktor, penghasilannya besar,” sambil melihat kontraktor pembangunan gedung itu yang mengendarai mobil Jimny. Percakapan itu membuka pikiran saya, bahwa saya tidak harus kuliah di jurusan agama, tapi ada alternatif lain yaitu jurusan teknik. Apalagi, Pondok Pabelan dikenal pernah mendapatkan penghargaan arsitektur. Ditambah saya hobi menggambar, ini menjadi bekal dasar untuk berani mengambil jurusan teknik arsitektur.

Di akhir masa pengabdian saya sempatkan mengikuti UMPTN di Yogyakarta. Persiapan satu tahun akhirnya terobati dengan diterima di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Sriwijaya. Ini mengharuskan saya pulang ke Palembang. Sebelum masa kuliah, ada kekhawatiran tidak bisa mengikuti perkuliahan dengan baik karena memikirkan kelemahan di bidang eksakta. Namun, kekhawatiran itu ternyata hanya ada di pikiran saja dan tidak pernah terjadi. Justru kuliah di jurusan arsitektur merupakan pengalaman yang mengesankan, karena jurusan ini unik, yaitu perpaduan antara ilmu teknik, seni, dan sosial.

Pendidikan organisasi yang didapat semasa di Pondok dilanjutkan di tingkat universitas. Saya dipercaya oleh teman-teman untuk mengemban Ketua Ikatan Mahasiswa Arsitektur Universitas Sriwijaya. Di samping aktif di ikatan jurusan, saya mencoba meneruskan kegiatan jurnalistik di kampus dengan bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa. Sayangnya, tidak banyak waktu untuk aktif beroganisasi di kampus, karena letak kampus sejauh 32 km dengan jarak tempuh satu jam.

Selama di Palembang persaudaraan dengan teman-teman masih tetap terjaga, khususnya dengan santri asal Palembang, Fajri Rachmadiansyah dan Testriono. Acara buka bersama dan Idul Fitri menjadi momen untuk berkumpul dan bercerita tentang masa-masa di Pabelan. Faktor persaudaraan inilah yang menjadi kelebihan santri Pabelan, yang selalu menjaga tali silaturahmi di manapun mereka berada. Solidaritas sesama santri demikian kuat.

Didikan di Pondok tentang mencari ilmu itu harus sampai akhir hayat selalu memotivasi untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Sehingga, ketika ada kesempatan untuk melanjutkan kuliah di pascasarjana ITB tidak saya sia-siakan, meski harus melepaskan pekerjaan yang telah dijalankan selama ini. Tentu dengan harapan bahwa melanjutkan pendidikan lebih tinggi saya dapat mengembangkan diri di dunia profesi, akademik, dan masyarakat.

Bagi saya, peran santri tidak hanya di bidang agama namun juga di bidang yang ditekuni dengan serius, yang dapat berdampak positif bagi diri sendiri dan masyarakat.

 

Advertisements

One thought on “Santri Jadi Arsitek (4)

  1. Pingback: Santri Jadi Arsitek (3) | A day in the life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s