Pabelan dan Mimpi Amerika (2)

Tulisan ini dimuat dalam buku “Setengah Abad Pondok Pabelan: Perjalanan Meraih Impian” (2015).

Sebelumnya Pabelan dan Mimpi Amerika (1)

Pabelan dan Imajinasi Pesantren di Jawa

Mengenal beberapa contoh profil alumni lewat ceramah Kiai Najib itu jadi fase penting dalam kehidupan saya sebagai santri Pabelan.

Saya makin yakin bahwa nyantri di Pabelan adalah pilihan yang tepat. Keyakinan itu membuat saya mampu bertahan terpisah dari keluarga. Magelang terpaut jarak lebih dari 1000 km dari Palembang, tempat saya lahir dan dibesarkan. Belajar tentu jadi tak nikmat jika saya menjalani hari-hari penuh penyesalan dan tekanan karena salah ambil keputusan. Untungnya itu tidak terjadi.

Menjadi santri pesantren di Jawa adalah dorongan pribadi saya sejak awal. Saya sebelumnya tak pernah tahu seperti apa dan bagaimana sosok Pondok Pabelan sesungguhnya. Pabelan adalah pilihan berdasarkan tawaran yang disodorkan ke saya oleh bapak saya.

Ketika masih belajar di Pesantren Ar-Riyadh Palembang, saya membayangkan bisa mondok di Jawa, di sebuah pesantren yang asri di tengah desa dengan lingkungan yang damai dan jauh dari hiruk pikuk kota. Saudara bapak di Purworejo sempat mengantar ke Pesantren Assalaam, Pabelan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Tapi pesantren ini tidak sesuai dengan bayangan saya ketika itu. Fisik dan bangunannya terlalu megah dan modern.

Lalu saya diantar ke Pondok Pabelan di Magelang. Berbeda dari sebelumnya, kali ini saya menjumpai sebuah pondok modern dengan lingkungan yang masih hijau. Gedung-gedung kelas dan asrama yang sederhana mengelilingi sebuah masjid tua yang tampak anggun. Beberapa bangunan gedhek juga masih dipertahankan.

Perpaduan yang serasi antara arsitektur modern dan tradisional itu membuat saya langsung tertarik. Bagi saya ketika itu, Pabelan adalah perwujudan imajinasi saya tentang sebuah pesantren di Jawa.

Fisik pondok yang selaras dengan lingkungan perdesaan terlihat jelas dari keterbukaan Pondok. Selain menyatu dengan lingkungan desa Pabelan, Pondok dibelah oleh jalan umum yang digunakan warga desa untuk beraktivitas. Tak ada pagar keliling yang membatasi Pondok dengan rumah warga sekitar. Para santri bisa berbelanja ke warung-warung di sekitar pesantren untuk barang-barang yang tidak tersedia di koperasi Pondok.

Keterbukaan itu tidak hanya tercermin secara fisik. Materi-materi pelajaran yang diterima santri juga jauh dari eksklusivisme. Kami diperkenalkan kitab Bidayatul Mujtahid, sebuah kitab fikih perbandingan karya filsuf dan pemikir Muslim Ibnu Rusyd.

Para kiai selalu mengingatkan bahwa Pabelan tidak condong pada salah satu aliran, ormas Islam, apalagi partai politik tertentu. Kami juga selalu diceritakan tentang persahabatan Kiai Hamam Jakfar dengan Romo Mangunwijaya.

Bersambung ke Pabelan dan Mimpi Amerika (3)

 

Advertisements

2 thoughts on “Pabelan dan Mimpi Amerika (2)

  1. Pingback: Pabelan dan Mimpi Amerika (1) | A day in the life

  2. Pingback: Pabelan dan Mimpi Amerika (3) | A day in the life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s