Belajar Politik di Amerika (2)

NIUSebelumnya lihat Belajar Politik di Amerika (1)

Lika-Liku Pilih Kampus

Sebelum saya berangkat ke Amerika, banyak yang tanya: “Jadinya mau kuliah di mana?” “Northern Illinois University (NIU), di Dekalb, Illinois,” jawab saya. Biasanya diikuti pertanyaan lanjutan: “Mengapa pilih NIU?”

Pertanyaan itu mungkin tak akan muncul jika saya menyebut nama kampus Ivy League, yaitu delapan kampus tua dan prestisius di Amerika yang selalu masuk peringkat 15 besar dunia, seperti Harvard University, Columbia University, Cornell University, atau Princeton University. Atau, mereka mungkin tak akan tanya lebih lanjut jika yang saya sebut adalah University of California, Berkeley, University of Michigan, University of Chicago, atau kampus-kampus bergengsi di Amerika lainnya.

Tentu, tiap orang bercita-cita kuliah di kampus top dunia itu. Siapa sih yang tak pengen menimba ilmu di kampus yang selalu masuk dalam kategori 10 besar atau 20 besar peringkat dunia?

Tapi, dan ini ihwal dapur pilih kampus itu, impian itu harus dibenturkan dengan situasi empiris tiap-tiap orang. Karena itu akan ada banyak cerita dan pengalaman yang berbeda. Pengalaman saya boleh jadi sama dengan beberapa orang, tapi belum tentu sama dengan banyak lainnya.

Terpilih menjadi salah seorang penerima beasiswa PRESTASI USAID baru setengah jalan. Langkah berikutnya adalah proses pendaftaran kampus. Ini juga sama menegangkannya dengan menunggu hasil proses seleksi beasiswa. Maklum, seleksi masuk kampus di Amerika cukup ketat dan kompetitif. Tiap pendaftar bersaing dengan mahasiswa dari seluruh dunia, juga dari Amerika sendiri. Apalagi, saya pernah dengar ada penerima beasiswa yang gagal berangkat karena tak dapat kampus. Jadi, dapat beasiswa belum tentu dapat kampus.

Lebih-lebih, sejak awal saya ingin belajar ilmu politik (political science). Seorang staf IIEF, ini lembaga pengelola beasiswa PRESTASI di Indonesia, pernah bilang, jurusan ilmu politik adalah salah satu yang cukup kompetitif. Ini seperti mengingatkan: mendaftar jurusan ilmu politik di kampus menengah saja belum tentu diterima, apalagi di kampus Ivy League.

Belakangan saya jadi tahu, mahasiswa Indonesia yang menjadi graduate student ilmu politik di kampus Ivy League atau kampus-kampus top Amerika bisa dihitung dengan jari. Saya akan cerita soal ini secara lebih khusus di lain waktu.

Untuk penerima beasiswa USAID, IIE yang membantu proses pendaftaran kampus. Lembaga konsultan pendidikan terbesar dan tertua di Amerika itu pula yang dipercaya mengelola penerima beasiswa USAID di Amerika. IIE membantu mereview apakah kampus-kampus yang disasar cocok atau tidak dengan profil si pendaftar. Jika tidak, mereka akan menawarkan kampus yang sesuai, atau pendaftar diminta mencari kampus lain penggantinya.

Profil si calon mahasiswa adalah yang paling utama. Ini meliputi latar belakang pendidikan ketika S1 berikut prestasinya, pengalaman kerja, juga pengalaman berorganisasi atau aktivisme. Semua itu harus tampak di curriculum vitae. Selain itu, rencana studi sangat krusial, berisikan tentang apa yang mau dipelajari, lantas ketika selesai mau melakukan apa, juga alasan memilih kampus dan bidang studi yang diinginkan.

Selanjutnya, skor TOEFL dan GRE sangat menentukan. Semakin tinggi peringkat kampus, semakin tinggi mereka pasang skor minimum. Inilah yang seringkali jadi sandungan buat mahasiswa internasional. Profilnya mungkin bagus. Tapi jika TOEFL-nya tak begitu tinggi, atau GRE nya cukup rendah, dia akan gugur dalam tahap awal penyaringan.

Tapi, di luar dua pokok itu ada hal-hal lain yang jadi perhitungan. Tak semua Departemen Ilmu Politik di kampus-kampus top dan besar Amerika menawarkan program master. Umumnya mereka hanya menerima mahasiswa Ph.D. Ini karena Departemen Ilmu Politik di kampus-kampus di Amerika memang diorientasikan untuk mendidik calon dosen. Karena itu, saya harus mencari kampus yang Departemen Ilmu Politik-nya punya program master. Umumnya adalah kampus menengah. NIU adalah salah satu yang menawarkan itu.

Selain itu, saya cari kampus yang punya Center for Southeast Asian Studies atau punya professor ilmu politik yang ahli Indonesia atau Asia Tenggara. Ini karena terkait dengan rencana studi dan riset nanti. Ketika berencana mendaftar di University of Toronto tahun 2012 lalu, saya pernah diingatkan oleh Professor Jacques Bertrand untuk mengambil Southeast Asian Studies sebagai kolaborasi studi, semacam peminatan. Keuntungannya adalah bisa ambil kelas dengan topik Asia Tenggara, juga akan membantu dalam mencari topik riset ke depannya nanti. Departemen Ilmu Politik NIU adalah salah satu kampus di Amerika yang di antara fokusnya adalah studi Asia Tenggara.

Selain itu, potret alumni kampus bersangkutan juga jadi pertimbangan. Yang saya tahu, sejumlah ilmuwan politik Indonesia lulusan NIU. Di antaranya adalah Anies Baswedan, Andi Mallarangeng, Ryaas Rasyid, Philips J. Vermonte, dan Nico Harjanto. Ini tambah meyakinkan saya bahwa NIU kampus yang layak dipertimbangkan.

Satu hal lagi, meski ini bukan pertimbangan utama, saya juga lihat apakah di kampus yang saya tuju ada mahasiswa Indonesia-nya. Setidaknya, akan ada teman yang bisa membantu di masa-masa ketika baru datang. Di NIU ada belasan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di kampus itu. Hampir setengahnya bahkan studi S3 di Departemen Ilmu Politik. Selain Sirojuddin Arif dan Iqra Anugrah, ada Ronnie Nataatmadja, Afrimadona, dan Azriansyah Agoes.

Iqra Anugrah, Afrimadona, dan Azriansyah Agoes tinggal dalam satu apartemen di Suburban Apartment. Mereka banyak membantu ketika saya baru datang. Saya juga sering berkunjung ke apartemen mereka. Ketika hendak login ke koneksi internet di apartemen itu, muncul sebuah nama: “Dekalb Mafia.”

 

Advertisements

One thought on “Belajar Politik di Amerika (2)

  1. Pingback: Belajar Politik di Amerika | A day in the life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s