Narcos

narcos

Pablo Escobar. Namanya jadi legenda. Ia adalah gembong narkoba nomor wahid dari Kolombia. Dekade 1990-an, ia pemasok 80% kokain di Amerika, dan karena itu dapat julukan “Raja Kokain”.

Ia tercatat sebagai kriminal yang paling kaya dalam sejarah. Bahkan, ia adalah salah satu dari 10 orang terkaya di dunia pada masa itu. Yang lebih gila lagi, ia berambisi jadi presiden! Ia sempat terpilih jadi anggota Kongres, sebelum kemudian diusir dari gedung parlemen oleh Menteri Kehakiman yang anti-suap. Tentu ia tak terima. Sang Menteri pun mati di tangan anak buahnya.

Karier kriminalnya merentang panjang. Keberingasannya membuat pemerintah Kolombia terpaksa bernegosiasi. Syarat dari Pablo, tak boleh ada perjanjian ekstradisi dengan Amerika. Selain itu, ia mau di penjara, asal bikinannya sendiri. Namanya La Catedral.

Di istana itu, ia hidup bak raja yang sedang cuti, dengan kawalan ketat anak buahnya. Bisnis narkobanya tentu saja terus berjalan seperti biasa. Ketika tahu pemerintah hendak memindahkannya ke penjara biasa, dia melarikan diri. Lima belas bulan kemudian dia mati ditembak tentara. Biaya pencariannya, konon, mencapai ratusan juta dolar. Itu belum menghitung korban jiwa dari kedua belah pihak.

Selain ditulis dalam banyak buku, kisah hidupnya menginspirasi banyak sineas. Belasan film dan serial televisi dibuat untuk mengangkat kisah hidup salah seorang kriminal paling berbahaya itu. Salah satu serial tentangnya yang saya tonton berjudul Narcos. Berikut satu petikan adegan dari serial itu yang saya ingat.

Pablo Escobar (ke anak buah 1):
“Kamu pergi antar uang ini ke Fernando Duque di Bogota. Ini alamatnya.
Kalau ada polisi yang menyetop di jalan, sogok sedikit, terus jalan lagi.
Jangan ada kekerasan. Dan jangan cari masalah.”

Anak buah 1:
“Siap, Bos!”

Pablo Escobar (ke anak buah 2 dan 3):
“Yang baik ya, jangan cari masalah!”

Anak buah 2 & 3:
“Siap, Bos!”
(Sambil merapikan beberapa senapan otomatis di bagasi mobil)

Pablo Escobar:
“Apa-apaan itu?”

Anak buah 2:
“Buat persiapan, Bos!”
(sambil mengokang senapan otomatis)

Pablo Escobar:
“Yang akan kalian temui itu politisi, bukan gangster!”

Anak buah 1:
“Bukankah mereka sama saja, Bos?”

Pablo Esbobar (dengan nada dingin dan pelan):
“Politisi gampang takut. Pistol saja cukup!”

Serial itu tak akan pernah saya tonton jika tak berlangganan Netflix. Ini adalah situs film terbesar di Amerika yang berisi ribuan film, serial, dokumenter, dan kartun untuk anak-anak. Tentu film-film yang sudah turun dari layar bioskop.

Buat yang hobi nonton, Netflix adalah surga.

Saya bisa nonton film secara streaming kapan pun, asal ada koneksi internet. Tanpa batasan. Per bulan relatif murah, sekitar seratus ribuan jika dirupiahkan. Netflix jadi pengisi hiburan ketika sedang bosan belajar atau di kala liburan.

Baru-baru ini saya baca Netflix membuka pasar luar Amerika. Total ada 130 negara, termasuk Indonesia. Tentu, itu disambut gembira para penggemar film di Indonesia. Sayangnya, tak lama kemudian ada kabar Telkom memblokir.

Yang saya ikuti, semula soalnya sensor. Agak aneh juga di zaman terbuka seperti sekarang sensor masih dipertahankan. Dalam sejarah, sensor adalah bagian cara-cara pemerintah otoriter untuk membungkam rakyatnya. Di Indonesia, sensor itu warisan Orde Baru. Tentu sudah tidak relevan di era demokrasi dan kebebasan informasi saat ini.

Lebih-lebih, Netflix memang jelas-jelas tidak memuat konten pornografi. Film-film di Netflix sebagian besar pernah diputar di bioskop, atau televisi di Amerika. Ada beberapa film Indonesia, seperti The Raid (dalam bentuk DVD) dan The Golden Cane Warrior (Pendekar Tongkat Emas) yang bisa ditonton di Netflix. Bahkan, ada banyak tontonan untuk anak-anak. Dan lagi, penggunaan Netflix memakai akun, di mana orang tua bisa mengontrol dan mengarahkan anaknya.

Ternyata, ada soal lain di balik itu. Belakangan saya baca Telkom minta profit share. Alamak. Memalukan sekali kalau itu benar. Seperti preman minta jatah. Di Amerika, saya berlangganan internet dari perusahaan Comcast. Tak pernah saya dengar Comcast minta jatah dari situs yang dilanggani oleh pelanggannya. Bagi saya, tak masuk akal penyedia internet minta jatah dari penyedia konten.

Lain halnya jika terkait masalah pajak. Negara tentu berhak bikin aturan terkait itu. Tentu dengan prinsip keadilan dan kompetisi yang sehat. Atau, bisa juga meminta Netflix untuk memasukkan lebih banyak lagi film Indonesia. Hitung-hitung sekalian promosi film Indonesia ke seluruh dunia.

Di era yang kian mengglobal ini, bukankah lebih baik menghitung peluang ketimbang terus mengembangkan mental terancam atau mental preman?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s