Pabelan dan Mimpi Amerika (3)

Tulisan ini dimuat dalam buku “Setengah Abad Pondok Pabelan: Perjalanan Meraih Impian” (2015).

Sebelumnya Pabelan dan Mimpi Amerika (1) dan Pabelan dan Mimpi Amerika (2)

Pabelan dan Jendela Dunia

Di Pabelan, pengetahuan tak hanya saya peroleh dari kelas. Meski penting, ia bukan satu-satunya tempat saya menimba ilmu dan wawasan. Kelas kedua saya di Pabelan adalah perpustakaan. Mungkin karena fungsinya yang sentral itu, Kiai Hamam mendirikan perpustakaan di tengah-tengah pesantren. Di Amerika, pemandangan serupa juga saya temukan. Perpustakaan universitas umumnya dibangun di tengah areal kampus dan menjadi jantung bagi proses transmisi pengetahuan.

Saya kemudian mengenal lebih jauh beberapa nama alumni Pabelan yang kerap disebut Kiai Najib lewat buku-buku karya mereka yang tersimpan di Perpustakaan Pondok. Komaruddin Hidayat, yang belakangan pernah menjadi Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, adalah pemikir dan penulis prolifik yang di tahun 1990-an telah menelurkan sejumlah buku tentang visi keislaman dan keindonesiaan. Dekade 1990-an, Bahtiar Effendy, yang belakangan pernah menjadi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta, adalah analis politik yang pikiran-pikirannya menghiasai banyak koran dan majalah. Kedua orang ini menjadi ikon intelektual Muslim saat itu: anak desa, lulusan pesantren, memperoleh gelar doktor di luar negeri, dan produktif menulis.

Saat itu, saya baca tulisan-tulisan mereka dengan kagum.

Tak hanya itu, perpustakaan pondok membuka mata saya pada dunia. Berbagai pengetahuan baru saya peroleh lewat koleksi perpustakaan yang kaya dan beragam. Momentum itu makin terasa ketika saya dipercaya menjadi pustakawan perpustakaan pondok. Saat itu, pengelolaan perpustakaan diserahkan sepenuhnya kepada santri. Setiap tahun pengurus senior melakukan perekrutan dan pelatihan pustakawan baru. Saya di antara yang terpilih ketika itu. Salah satu keuntungan menjadi pustakawan adalah saya bisa leluasa masuk ke perpustakaan, meminjam buku apa saja, serta mengeksplorasi setiap koleksi perpustakaan.

Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya menggunakannya untuk membaca buku-buku yang menurut saya menarik mulai dari pemikiran Islam, sastra, sejarah, politik, sampai biografi. Di perpustakaan itu saya bisa membaca karya-karya Hamka, Rendra, Goenawan Mohamad, Muhammad Iqbal, Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, Doestoyevski, hingga Nietszche. Saya juga membaca biografi Soekarno, Tjokroaminoto, Gandhi, Nasser, Mussolini, Castro, dan para tokoh dunia lain. Dan tentu saja, saya menemukan karya-karya intelektual Muslim seperti Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, selain Komaruddin Hidayat dan Bahtiar Effendy.

Koleksi koran dan majalah seperti Kompas, Tempo dan Panji Masyarakat juga menghiasi perpustakaan Pondok.

Suatu ketika, saat sedang membaca koleksi majalah lama, saya menemukan sebuah esai—jika tidak salah di Majalah Tempo—tulisan Bahtiar Effendy tentang pengalamannya menjadi peserta American Field Service (AFS). Ini adalah Program Pertukaran Pelajar yang memberi kesempatan kepada anak SMA yang terpilih untuk belajar di Amerika. Bahtiar waktu itu masih kelas dua setingkat SMA di Pabelan dan memperoleh kesempatan belajar setahun di Amerika. Ia cerita tentang berbagai tantangan yang harus ia hadapi sebagai pelajar internasional di Amerika dan keseharian hidup yang ia jalani. Esai itu memuat gambarnya ketika sedang main tenis.

Tulisan itu sempat membuat saya tergerak ingin mendaftar jika program AFS kembali ditawarkan di Pabelan. Tapi sayangnya, hingga saya tamat pada tahun 2000, program AFS tak pernah saya dengar. Mungkin karena sejak 1997 Indonesia sedang kacau dihantam krisis ekonomi serta dalam transisi menuju demokrasi. Ketika sedang kuliah di UIN Jakarta, saya sempat mendengar ada beberapa santri yang memperoleh kesempatan dikirim ke Amerika lewat program AFS. Sesuatu yang dulu pernah saya impikan.

Bersambung ke Pabelan dan Mimpi Amerika (4)

Advertisements

One thought on “Pabelan dan Mimpi Amerika (3)

  1. Pingback: Pabelan dan Mimpi Amerika (2) | A day in the life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s