Membaca Pram

d430b3cd-5cc3-4911-88e8-2f1e0a88da43

Hari-hari ini saya membaca tetralogi Bumi Manusia—Bumi Manusia, Anak semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca—karya Pramoedya Ananta Toer. Dua dari tetralogi itu telah saya tamatkan.

Ini memang sudah saya niatkan sejak tahu Seksi Asia Tenggara Perpustakaan NIU tak hanya menyimpan karya-karya akademik tentang Indonesia. Karya-karya sastra tulisan sastrawan Indonesia, termasuk karya-karya Pram, juga bisa saya jumpai di situ.

Meski kagum dan menggemari karya-karya Pram, saya belum pernah membaca tetraloginya hingga tuntas. Saya juga belum sempat mengkoleksinya.

Di Pondok Pabelan, tempat di mana minat dan hobi saya membaca sastra lahir dan berkembang, saya terpuaskan oleh koleksi sastra Perpustakaan Pabelan yang cukup banyak. Sayangnya, karya Pram tak pernah saya temukan. Memang, waktu itu, zaman Orde Baru, karya-karya Pram dilarang. Jarang ada yang berani menyimpan karya-karya Pram, karena jika ketahuan pemerintah bisa dianggap makar atau terkena pasal subversif.

Di masa Reformasi, zaman peralihan, karya-karya kiri membanjiri pasar buku di Yogya. Beberapa alumni Pabelan yang kuliah di Yogya kerapkali datang dan memperkenalkan sejumlah karya-karya kiri itu. Di antaranya skripsi Soe Hok Gie yang diterbitkan dengan judul Di Bawah Lentera Merah.

Tapi, tak ada yang membawa karya Pram. Mungkin di tahun-tahun itu karya-karya Pram belum sempat diterbitkan kembali.

Karya Pram yang pertama kali saya baca berjudul Korupsi. Ini koleksi Bapak yang saya baca setelah tamat dari Pabelan. Ini adalah karya Pram pra-Pulau Buru. Seingat saya, novel itu tak begitu menarik perhatian kritikus sastra dan tak dianggap istimewa. Demikian setidaknya yang saya ketahui dari sejumlah kritik sastra yang saya baca.

Ketika kuliah di UIN Jakarta, bacaan saya terhadap sastra mengendur. Waktu tinggal di Formaci, saya baca beberapa bagian tetralogi itu, tapi tak pernah selesai. Saya meminjamnya dari koleksi Muhammad Akib, rekan di Formaci yang meminati sastra dan kritik sastra.

Meski demikian saya masih sempat mengoleksi karya-karya sastra yang saya beli ketika ada bazar buku murah di kampus. Ketika kerja di PPIM, sastra makin jarang saya sentuh. Lebih banyak membaca karya akademik, khususnya terkait dengan pekerjaan di PPIM dan riset.

Kini saya punya sedikit waktu luang jelang kepulangan ke Indonesia 16 Mei nanti. Setelah defense tesis master saya 4 April lalu, praktis saya tak punya beban kuliah lagi. Semua matrikulasi program master telah saya selesaikan. Masih ada kelas Multilevel Modeling yang harus saya hadiri, tapi tak ada tugas yang wajib saya kerjakan karena hanya sebagai mahasiswa audit.

Selesai presentasi paper di Midwest Political Science Association (MPSA) pada 8 April lalu saya benar-benar bebas. Karena itu janji membaca Pram segera saya tunaikan, sambil sesekali diselingi menonton film atau series.

Membaca Pram adalah membaca sejarah Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda hingga jelang kemerdekaan. Pram meramu sejarah dalam tetralogi dengan cara yang memikat. Beberapa nama dan peristiwa yang disebutnya adalah sosok dan kejadian yang benar ada dalam sejarah. Sebagai lulusan sejarah, karya Pram bisa menyegarkan bacaan saya tentang sejarah. Bahkan, banyak pula nama atau fakta sejarah yang baru saya tahu setelah baca tetralogi.

Saya kagum kepandaian Pram meramu fakta dan fiksi dalam karyanya. Antara sejarah dan imajinasi bertautan dan berjalin kelindan dengan jernih dan lancar. Pram sangat menggemari mengkliping koran, mungkin dari situ pengetahuannya tentang sejarah Indonesia, termasuk kebudayaan Eropa dan Jawa, begitu kuat dalam tetralogi. Selain itu, lahir tahun 1925, Pram sendiri mengalami dan menyaksikan sejarah mulai zaman kolonial Belanda hingga jatuhnya Orde Baru, rezim yang telah merampas kebebasannya dan mengasingkannya ke Pulau Buru.

Membaca tetralogi Bumi Manusia adalah membaca pembentukan negara-bangsa Indonesia, lewat jatuh bangun para tokoh yang ditampilkan Pram. Tokoh utama Pram, Minke, adalah potret modern bangsa Indonesia. Ia dilahirkan sebagai pribumi yang bergumul dengan kebudayaan bangsa-bangsa lain, sebagai “anak semua bangsa.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s