Sepotong Purnama untuk Istriku

Kepulangan tinggal menghitung hari. Tapi jujur, waktu justru terasa berjalan lamban. Orang bilang, itu mungkin karena kerinduan yang tak tertahankan. Pada Indonesia, buminya dan manusianya. Terutama, padamu Seha dan Brilian, istri dan putraku tercinta.

Tak ada lagi purnama yang perlu dihitung dan ditunggu-tunggu. Barangkali tinggal sepotong saja, dan ingin rasanya kubawa pulang, sebagai kado untukmu. Untuk ketabahanmu yang tiada tara, untuk kekuatanmu yang tak menuntut harga. Tak ada yang bisa kuucapkan untuk kesediaanmu berkorban itu, selain: “terima kasih”.

Waktu ikrar janji 6 tahun lalu, barangkali tak pernah kau bayangkan aku akan membawamu melewati, meminjam ungkapan Quran, “jalan yang mendaki lagi sukar.” Tapi, bukankah kau pernah dengar kata-kata Friedrich Schiller yang dikutip Sjahrir, “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”

8 Mei 2010. Kita memulai semuanya dalam kesederhanaan. Kita berangkat dari tiada dalam arti yang sebenarnya. Pada mereka yang sukses melampauinya, kita belajar: bersama dalam suka dan duka adalah kunci meraih bahagia. Aku ingin membesarkan hatimu dengan meminjam kata-kata Pram: “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.”

Ada banyak perjalanan yang kita buat. Kita pernah jadi sepasang peneliti di desa yang indah di Purwakarta dan Magelang. Kita pernah jadi sepasang pencinta alam di Gunung Salak. Kita pernah jadi sepasang turis di Garut dan Yogya. Apapun bentuknya, kenangan bersama selalu manis untuk disimpan, jadi pelipur lara ketika diputar ulang. Saat rindu datang, itulah saatnya kenangan manis ambil peran.

Dalam Bumi Manusia, Pram pernah menulis begini: “Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yag pendek ini.” Mungkin karena itu Chairil Anwar dalam sajaknya Aku mengumandangkan semangat, Aku mau hidup seribu tahun lagi. Kau tahu, Chairil tak akan merapalkan harapan itu kalau ia bukan seorang pencinta. Mungkin sedikit klise, tapi barangkali tak seorang pun akan menolak lirik lagu band Ungu ini: Apalah artinya hidup tanpa cinta.

Teknologi membantu kita untuk selalu terhubung. Juga bertatap muka berbagi cerita dan berita. Tapi kita justru makin sadar, tak ada yang bisa menggantikan sebuah pertemuan secara fisik di dunia nyata. Jarak kita adalah Timur dan Barat. Tapi yakinlah cintaku, sebentar lagi jarak itu akan susut dan menghilang.

Terima kasih sudah menjaga dan mendidik anak kita Brilian. Beberapa kali dia sakit, hilang keceriaan, dan kau berusaha sekuatmu membuatnya sehat kembali. Kau pun begitu, beberapa kali tak berdaya didera sakit, tapi tak pernah kehilangan ketegaran. Seperti biasa, kalian kembali mengirimkan senyuman ke Dekalb, kota kecil yang barangkali tak pernah menyisakan rindu buat yang meninggalkannya.

Teruslah tersenyum dan ceria, Seha dan Brilian. Kalian justru mengajarkanku apa yang di Barat sini disebut love, strength, and courage. Aku percaya semesta raya akan selalu menjaga dan mengasihi kalian.

Advertisements

4 thoughts on “Sepotong Purnama untuk Istriku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s