Tahu Asap dan Kereta yang Setara Negara Maju

13232978_10208196062633600_1137879542902956608_nAkhirnya saat itu datang juga: kembali ke bumi Indonesia, bertemu dengan orang-orangnya, alamnya, dan dunianya. Kata beberapa teman, kembali ke “kenyataan.”

Dua tahun boleh jadi bukan waktu yang lama. Apalagi beberapa hari tinggal di Bekasi, tak banyak perubahan yang terlihat. Kembali menyaksikan pemandangan yang sudah jadi biasa: kesemrawutan jalan raya; got-got yang tak terurus dan mampet tertimbun sampah; trotoar yang jadi pusat perbelanjaan dan kuliner; dan seterusnya dan seterusnya.

Teman saya, Wisnu Trianggono, curhat di halaman Facebook-nya: “Having experienced the traffic, I would definitely say that this is the real ‘Land of the Free and Home of the Brave’.”

Tapi bagaimanapun juga, adaptasi lingkungan dan “kenyataan” tak boleh berlarut-larut. Jika sebelumnya merasakan pemerintah ada di tiap sudut kota, kini harus kembali menerima situasi absennya pemerintah di ruang-ruang ketika ia mestinya hadir.

Perjalanan ke Bogor pada hari ketiga di Indonesia adalah momen adaptasi yang sesungguhnya. Sabtu pagi saya bertolak ke Stasiun Bekasi. Bangun jam 4 pagi, dan berangkat ke stasiun satu jam kemudian: demi menghindari macet. Jelang pukul 6, Wisnu datang. Sesuai rencana kami naik kereta jam 6 pagi ke Manggarai. Di Stasiun UI Depok telah menunggu Dina Rafidiyah dan Diani Indah Rachmitasari.

Berempat kami akan akan mengisi acara Pre-Departure Orientation (PDO) bagi penerima beasiswa USAID PRESTASI-3 yang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk mulai program Master di Fall 2016 ini. PDO itu dilaksanakan di JIMMERS Mountain Resort, di daerah Puncak, Cisarua, Bogor.

Dari UI kami naik mobil jemputan yang disediakan oleh panitia. Jelang exit pintu tol Jagorawi, macet panjang langsung menyambut. Dan seperti biasa, kemacetan itu jadi arena pasar kaget. Ada banyak pedagang menjajakan tahu goreng, minuman, dan berbagai makanan lain dari mobil ke mobil. Umumnya, tahu-tahu goreng itu dijajakan dengan plastik terbuka.

“Pantas tahunya enak. Bumbunya asap knalpot,” seloroh saya. “Itu namanya Tahu Asap, Mas,” Wisnu menambahkan. Ketika melihat asap pekat knalpot sebuah biskota menghantam beberapa pedagang tahu, pecahlah tawa kami.

Di pinggir jalan gerobak-gerobak cilok juga menunggu pembeli. Warna dagangannya putih segar. Ada yang tanya, “Itu cilok ikan apa cilok boraks?”

Meski belum sempat sarapan, kami memilih menahan lapar di tengah macet itu.

Perjalanan pulang adalah yang paling menantang. Jam 2 siang kami bertolak dari venue acara. Sopir mobil sewaan menawarkan lewat jalan alternatif yang akan tembus langsung Cisarua untuk menghindari macet di Puncak pada akhir pekan itu. Kami mengiyakan saja.

Sialnya, baru beberapa kilometer, mobil mogok di sebuah tanjakan selepas melewati jembatan. Si sopir refleks, “Aduh, lupa kasih klakson.” Kami cuma senyum saja.

Saya dan Wisnu mencoba mendorong, mesin mobil tak juga menyala. Sempat agak tenang ketika sopir mobil itu mencoba menelepon temannya. Dua orang datang naik motor. Ternyata, dua orang yang datang itu sama sekali tak berbekal peralatan bengkel, dan seperti si sopir, mereka juga tidak tahu banyak tentang mesin mobil. Ini pertanda buruk. Bahkan di kampungnya sendiri, sopir mobil itu tak punya teknisi bengkel yang bisa dipanggilnya dalam situasi darurat.

Diani segera menghubungi panitia. Naasnya, panitia tak tahu lokasi kami yang rasanya berada di in the middle of nowhere itu. Info dari si sopir, nama jembatan itu adalah Jembatan Besi Coblong. Baru dua jam kemudian mobil alternatif kiriman dari panitia datang diantar satpam hotel yang tahu lokasi jembatan itu.

Mobil alternatif itu hanya bisa mengantar kami ke jalan raya. Dari jalan raya kami naik angkot menuju Bogor di bawah siraman hujan deras. Setelah sempat jajan di food court di Botani Square, Bogor, kami mengantar Dina ke bis bandara. Dia akan pulang ke kampung halamannya di Banjarmasin.

Setelah itu, saya, Wisnu, dan Diani menuju Stasiun Bogor. Jam 7 kereta bertolak dari Bogor ke Manggarai. Sesekali ngobrol, tapi kantuk dan lelah sudah tak tertahankan, terutama karena masih dihinggapi suasana jetlag. Di dalam kereta terdapat layar monitor yang menayangkan iklan. Salah satu iklan sesumbar, “Kereta api Indonesia kini sudah setara dengan negara maju.”

Di Manggarai saya dan Wisnu berpisah dengan Diani yang menuju rumahnya di kawasan Radio Dalam. Saya dan Wisnu berganti ke kereta tujuan Bekasi yang berangkat jam 8. Tanpa diduga, berkali-kali kereta berhenti. Sebabnya, ada kereta luar kota yang menyusul di belakang, dan komuter yang kami tumpangi harus mengalah. Sambil menyabarkan diri, kami berseloroh, “Ini karena kereta kita sudah setara dengan negara maju.”

Jam 10 akhirnya kereta yang kami tumpangi sampai di Stasiun Bekasi. Manggarai-Bekasi yang mestinya cuma 30 menit harus ditempuh 2 jam.

Saya berpisah dengan Wisnu. Naik angkutan umum menuju rumah. Jam 10.30 lebih baru sampai rumah, dengan tampang kusut dan keringat yang sudah lengket di sekujur badan. Begitulah, saya benar-benar beradaptasi lagi dengan sesuatu yang sudah lumrah: jangan pernah berharap waktu bisa terukur akurat di jalanan dan transportasi umum di negeri ini.

Beberapa teman yang tahu saya sudah tiba di Indonesia mengucapkan, “Welcome home, Bro.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s