Mudik

Tahun ini, bersama Seha dan Brilian, saya mudik ke Palembang. Terakhir kali kami mudik adalah dua tahun lalu, sebelum berangkat ke Amerika. Seperti kebanyakan orang, mudik jadi kesempatan bertemu dan menengok orang tua.

Profesor Komaruddin Hidayat pernah bilang: “Mudik merupakan realisasi dari fitrah manusia untuk kembali ke asal, mencari akar dirinya.”

Sayangnya, saya kesulitan mendefinisikan “akar” itu. Ayah adalah orang Jawa yang lahir di Sumatera. Kakek adalah pelarian zaman kolonial yang terdampar di perkebunan karet di Sumatera Selatan. Karier terakhirnya adalah juru tulis di perkebunan milik Belanda itu. Ibu saya berdarah Minang plus Jawa. Ibunya ibu adalah orang Padang, sementara ayahnya orang Jawa. Tapi, ibu lahir di 23 Ilir Palembang dan besar di Pasar Kuto, tempat banyak orang Palembang asli bermukim, juga tempat banyak orang Arab dan Cina berdomisili.

Saya lahir di Palembang, tapi besar di Desa Sukamoro, Banyuasin, kampung tetangga kelahiran Bapak. Ini desa Jawa, di mana sebagian besar penduduknya orang Jawa. Waktu saya kecil, masih banyak orang di Desa itu yang bisa berbahasa Jawa halus. Masih banyak pula saat itu orang menanggap kuda lumping dan wayang kulit ketika hajatan.

Kelas 6 SD, keluarga pindah ke Palembang. Setelah itu saya masuk ke Pesantren Ar Riyadh di Palembang dan kemudian melanjutkan tingkat SMA di Pesantren Pabelan di Magelang. Tamat pesantren, saya lalu kuliah di UIN Ciputat. Kini orang tua tinggal di Talang Keramat, Banyuasin. Ini bukan kampung tempat saya lahir, bukan pula kampung tempat saya besar. Saya kehilangan akar.

Tapi fitrah mencari “akar” itu memang tak bisa ditampik. Tiap mudik saya memang tidak sekadar bertemu orang tua. Saya kerap bertanya kisah-kisah masa lalu, tentang masa kecil saya, juga tentang keluarga. Selain itu, mudik lebaran adalah saat bertemu keluarga besar. Berkunjung ke mereka, lagi-lagi saya mendengar cerita-cerita masa lalu. Juga cerita orang-orang yang dulu sepermainan, tetangga, teman sekolah, dan seterusnya dan seterusnya.

Mudik memang menyatukan kembali anggota keluarga yang terpisah fisik. Pada saat yang sama, mudik jadi momen untuk membangun pecahan-pecahan memori masa lampau. Menenun kembali ingatan tentang masa lalu yang jauh: masa kecil, masa muda, orang-orang terdekat, orang-orang sekitar di kampung.

Saya mendengar beberapa teman SD yang sudah pada menikah, punya anak, jadi tentara, bekerja di sana, dan lain-lain. Sayang, tak ada satu pun yang sempat saya temui.

Sukamoro, kampung tempat saya dibesarkan, juga sudah berubah wajah. Ruko-ruko berdiri sepanjang jalan. Rumah tempat saya dibesarkan dulu juga sudah hilang bentuk. Kebun-kebun dan hutan-hutan tempat bermain dulu kini sudah jadi perumahan. Kali dan beberapa mata air tempat mandi dan mengambil air telah dikuasai oleh pengusaha air minum kemasan atau isi ulang. Semuanya tinggal cerita.

Lewat mudik, saya bertemu kembali dengan seorang sahabat yang terpisah belasan tahun. Di Facebook, silaturahmi virtual terjalin. Tapi di mudik, silaturahmi yang–kata seorang sahabat–substansial, terjadi.

Tak ada yang membahagiakan ketimbang bertemu dengan sahabat masa kecil. Meldo, sahabat di Pabelan mengantar jajan kuliner dan keliling kota Palembang sambil sesekali membincang masa sekolah dulu. Faisal, sahabat di Ar-Riyadh berkunjung ke rumah, memperkenalkan anaknya yang ternyata usianya tak terpaut jauh dengan Brilian. Kedua anak kecil itu segera akrab.

Begitulah, mudik memang bukan momen mengekalkan kenangan. Ia ajang untuk kembali ke akar, menjalin yang terputus, mempererat yang renggang, mengingat bersama-sama yang terlupa.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s