Great Job, Billy!

3 November 2016 lalu saya dan Seha bertemu wali kelas Billy, Mrs. Crosby, di sekolahnya, Jefferson School. Nama pertemuannya: Teacher Conference. Di Indonesia ini sebetulnya bagi rapor. Bedanya, penerimaan rapor dilakukan oleh guru kelas pada masing-masing orang tua, secara tertutup. Tidak pakai rangking-rangkingan.

Dan yang menarik, bagi rapor ini bukan sekedar guru menyerahkan buku rapor. Tapi, guru menjelaskan apa saja pencapaian siswa. Di mana yang kurang. Bagaimana perkembangan baik akademik maupun sosial di kelas. Tentu saja orang tua diberi kesempatan untuk bertanya. Semua dibicarakan secara terbuka.

Hasilnya, setelah menjalani sekolah dalam dua bulan ini, Billy mendapat pujian dari ibu gurunya: “He really did a great job.”

Bu Crosby menjelaskan, Billy bisa melakukan hampir semua tugas-tugas yang diberikan. Banyak yang melampaui target, seperti menghitung atau mengenal huruf. Dia juga berani angkat tangan di kelas, dan berusaha untuk bisa menjawab. Dia berusaha keras untuk terlibat di dalam kelas. Hanya beberapa saja yang masih kurang. Tapi, kata gurunya, itu karena bahasa. Nanti kalau dia sudah lancar berbahasa Inggris, akan jauh lebih baik.

Sanjungan itu sungguh melegakan.

Terus terang, saya bisa membayangkan kesulitan dan tantangan yang dihadapi Billy. Usianya baru 5 tahun. Dia tidak punya sedikit pun modal bahasa Inggris, kecuali beberapa kosakata saja: yes, no, in line, restroom, dan tentu saja thank you. Tapi, dia harus masuk di sekolah Amerika yang pengantarnya berbahasa Inggris sepenuhnya. Tanpa penerjemah. Ibarat orang belajar berenang, dia langsung mencebur tanpa tetek bengek teori.

Selain itu, di sekolah dia bertemu dan berinteraksi anak-anak dari berbagai bangsa dan ras, baik Amerika kulit putih, afro Amerika, hispanik, Timur Tengah, dan lainnya. Untungnya, ada satu orang temannya di kelas, Kania, yang sesama Indonesia. Dia jadi tidak merasa terasing sepenuhnya.

Tapi sepulang menjemput Billy beberapa waktu lalu Seha cerita. Katanya, Kania bilang, “Billy sekarang sudah jarang main sama aku.” Ibu Kania yang mendengar penuturan anaknya menjawab, “O, bagus itu. Artinya Billy sudah banyak temannya.”

2 September 2016 menjadi hari pertama Billy sebagai siswa Kindergarten di Jefferson School. Dia sangat excited. Meski saya merasakan nervous di wajah dan perasaannya, tapi antusiasmenya membuat nervous itu sirna. Selama beberapa minggu, dia berangkat dan pulang bersama Kania yang sekelas dengan Billy. Saya sudah mendaftarkannya untuk naik bis sekolah, tapi dia belum mau. Saya mafhum. Seusia dia tentu butuh waktu.

26 September 2016 menjadi hari pertamanya naik bis sekolah. Dia sendiri yang minta. Saya pastikan beberapa hari sebelumnya. “Benar sudah siap?” Dia jawab, “Iya, mau.” Maka mulai Senin itu dia berangkat dan pulang sekolah naik bis sekolah. Saya dan Seha hanya mengantar ke pemberhentian bis. Hari pertama dia tampak sedikit bingung dan nervous. Selebihnya dia segera terbiasa.

2 November 2016 Billy mulai ikut makan siang (hot lunch) yang disediakan di sekolah. Jadi, karena sekolah mulai jam 8.30 pagi sampai 3.30 sore, setiap siswa wajib bawa atau jika tidak mendaftar makan siang di sekolah. Awalnya kami memutuskan  untuk membawa saja dari rumah, khawatir Billy tidak cocok menunya yang sangat Amerika. Lagi-lagi dia sendiri pula yang minta ikut hot lunch. Alasannya, beberapa teman mainnya ikut hot lunch.

Saya benar-benar salut atas keberanian Billy untuk sekolah, naik bis sekolah, dan ikut hot lunch. Kemampuan Billy beradaptasi, baik belajar, lingkungan, berteman, maupun makanan, benar-benar tak perlu diragukan.

Yang kadang membuat haru, dia tak pernah mengeluh. Tidak menangis dan patah arang. Sebaliknya, dia sangat menikmati sekolahnya.

Suatu kali saya tanya ayah Kania, Ronny, yang biasa mengantar dan menjemput Kania. “Bagaimana Mas, Billy, sebelum masuk kelas?”

“Dia main sama teman-temannya.” Lalu saya tanya lagi, “Sambil ngobrol mereka?”

“Pokoknya bercanda gitu. Ya mungkin pakai bahasa kalbu.”

Itu pula yang saya saksikan waktu Billy bermain dengan anak-anak tetangga apartemen waktu dia belum sekolah. Billy berbahasa Indonesia, sementara teman-temannya berbahasa Inggris. Tapi, begitulah anak-anak. Meski satu sama lain tak saling tahu bahasanya, mereka tetap bermain, bercanda, dan kejar-kejaran. Penuh riang dan gembira.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s