Trump

Selasa, 8 November 2016, jadi hari penentu siapa yang bakal jadi presiden Amerika Serikat empat tahun ke depan: Hillary Clinton dari Partai Demokrat atau Donald Trump dari Partai Republik.

Tak hanya buat warga Amerika, pemilu ini juga penting buat saya sebagai mahasiswa internasional di Amerika. Pertama, Trump dalam kampanyenya berulang-ulang bilang akan mempertegas soal imigrasi, termasuk membuat dinding di perbatasan Meksiko untuk mencegah imigran illegal masuk Amerika. Kedua, Trump terang-terangan memainkan isu rasial yang cukup krusial buat orang-orang non-kulit putih, apalagi pendatang seperti saya. Trump, misalnya, pernah dengan enteng mengatakan akan mengusir umat Muslim dari Amerika.

Tentu saja, pernyataan-pernyataan Trump kala kampanye belum tentu jadi kebijakan. Tapi jika dia menang, bukankah tak ada yang tidak mungkin. Who knows?

Selasa pagi itu saya membuka-buka beberapa hasil survei mutakhir terkait dua kandidat. Seperti sudah diketahui umum, Hillary memimpin di banyak survei. Tak heran bila banyak pengamat dan media memprediksi dia akan menang dalam pertarungannya yang kedua, dan mungkin terakhir, untuk merebut kursi presiden Amerika ini.

Yang cukup mengkhawatirkan, sejumlah hasil survei menunjukkan selisih dukungan terhadap kedua kandidat makin tipis. Di beberapa lembaga survei selisihnya hanya antara 1-3 poin saja. Jika itu masuk margin of error, itu berarti kans keduanya sama kuat.

Lalu saya buka pula hasil survei Pew research tentang penilaian publik Amerika terhadap karakteristik personal kedua kandidat. Hillary unggul hampir di semua poin, seperti patriotis, menginspirasi, bermoral, dan berkualifikasi tinggi. Kecuali satu: kejujuran. Hanya 33 persen warga Amerika yang percaya Hillary jujur, sementara 37 persen menyatakan Trump lebih jujur. Terus terang, ini membuat saya sedikit nervous. Jika warga Amerika menganggap aspek kejujuran ini penting, tentu Hillary tak akan menang.

Tapi, tentu saja, banyak faktor yang mendorong seseorang memilih kandidat. Apalagi, isu penggunaan server pribadi untuk email waktu menjabat Menteri Luar Negeri yang menghantam Hillary lebih sebagai upaya membunuh karakter jelang Pemilu.

Iseng saya tanya teman kerja yang warga Amerika: “Bagaimana jika seandainya Trump menang?” Dia meyakinkan saya dengan berapi-api bahwa Trump pasti kalah. Katanya, Trump tidak layak menjadi presiden Amerika.

Maka seperti warga Amerika lain, saya juga menunggu dengan cemas. Ketika melewati Student Center NIU jelang Maghrib, saya lihat antrian mahasiswa yang akan voting di TPS itu cukup panjang. Sampai rumah, segera saya duduk di depan TV. Hampir semua stasiun menayangkan acara pemilu. Karena suara dihitung online, media bisa langsung mengakses hasil suara yang masuk di masing-masing negara bagian.

Di TV, peta negara-negara bagian Amerika awalnya memerah (dimenangkan Republik). Saya berharap akan berubah biru (dimenangkan Demokrat). Namun hingga beberapa jam kemudian tak juga berubah. Perolehan suara Hillary berada di bawah Trump. Sekitar jam 9 malam, ketika Zezen Zaenal Muttaqin, teman yang sedang studi di UCLA, bilang di akun Facebooknya bahwa Hillary menang, saya bilang, too close to call. Artinya, terlalu cepat untuk menyimpulkan. Itu memang jadi headline sebuah stasiun TV.

Jelang penutupan pemungutan suara, sekitar jam 10 waktu Amerika tengah, Hillary posting di akun twitternya “This team has so much to be proud of. Whatever happens tonight, thank you for everything.” Meski terasa nada pesimis di pesan itu, saya masih tetap berharap.

Beberapa swing states seperti Florida, Ohio, dan Michigan sudah memerah. Tapi New Hampshire dan Pennsylvania belum jelas. Saya masih menunggu. Namun, ketika perlahan-lahan hampir semua swing states termasuk Wisconsin dan Iowa menjadi merah, kecuali New Hampshire, saya mulai meyakinkan diri: Trump menang.

Jelang tengah malam, kolumnis the New York Times, Paul Krugman, menulis dengan nada murung:

Our Unknown Country

We still don’t know who will win the electoral college, although as I write this it looks — incredibly, horribly — as if the odds now favor Donald J. Trump. What we do know is that people like me, and probably like most readers of The New York Times, truly didn’t understand the country we live in. We thought that our fellow citizens would not, in the end, vote for a candidate so manifestly unqualified for high office, so temperamentally unsound, so scary yet ludicrous.

We thought that the nation, while far from having transcended racial prejudice and misogyny, had become vastly more open and tolerant over time.

We thought that the great majority of Americans valued democratic norms and the rule of law.

It turns out that we were wrong. There turn out to be a huge number of people — white people, living mainly in rural areas — who don’t share at all our idea of what America is about. For them, it is about blood and soil, about traditional patriarchy and racial hierarchy. And there were many other people who might not share those anti-democratic values, but who nonetheless were willing to vote for anyone bearing the Republican label.

I don’t know how we go forward from here. Is America a failed state and society? It looks truly possible. I guess we have to pick ourselves up and try to find a way forward, but this has been a night of terrible revelations, and I don’t think it’s self-indulgent to feel quite a lot of despair.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s