Trump (2)

Bangun pagi di Rabu 9 November 2016, saya merasakan Amerika yang berbeda. Amerika yang murung setelah terpilihnya Trump sebagai presiden yang baru. Dingin musim gugur dengan pohon-pohon yang meranggas menambah murung hari itu.

Dan entah kenapa saya jadi mudah menaruh curiga. Bertemu warga Amerika kulit putih pedesaan, yang mirip dengan karakter pendukung Trump, saya langsung menduga merekalah yang membuat Trump jadi presiden. Berjumpa dengan warga senior, saya juga jadi menduga mereka inilah pendukung Trump: tua, konservatif, tak suka pendatang.

Kemenangan Trump memang membuat banyak orang non-kulit putih, khususnya pendatang, menjadi was-was. Sejumlah aksi-aksi intoleransi dan kebencian rasial mulai terjadi di sejumlah tempat. Di NIU, seorang mahasiswa kulit hitam menjadi korban sentimen rasial itu. Dia tengah berjalan di sekitar kampus ketika sebuah mobil yang dikendarai beberapa orang kulit putih meneriakinya dengan ejekan rasial dan menyebutnya tidak pantas tinggal di Amerika.

Seminggu setelah pemilu, sejumlah pusat studi di NIU–Center for Latino and Latin American Studies; Center for Women, Gender, and Sexuality Studies; Center for Black Studies; Center for Southeast Asian Studies–mengadakan “Post-Election Conversation.” Percakapan itu dimaksudkan untuk mendiskusikan bagaimana cara menghadapi agresi, pelecehan, bahkan kekerasan berbau rasial yang mungkin terjadi pasca-pemilu. Tentu saja, acara itu ditujukan untuk mahasiswa yang disebut “campus communities of color”, mahasiswa internasional, dan kelompok minoritas seperti Muslim dan LGBTQ.

Memang banyak yang kecewa dengan kemenangan Trump. Di Facebook, teman-teman saya yang warga Amerika, yang umumnya anti-Trump, tampak marah, kesal, shocked. Mereka tidak menyangka Trump unggul. Mereka tidak percaya warga Amerika memilih seorang yang dikenal rasis dan kerap melecehkan perempuan menjadi presidennya. Mereka tidak menyangka orang yang tidak punya karier politik, besar omong, dan arogan akan menjadi orang nomor satu di negara demokrasi tertua itu.

Masyarakat Amerika terbelah. Sampai beberapa hari di Facebook, maki-maki Trump dan pemilihnya menyeruak. Gerakan unfriend menjadi pilihan. Di kota-kota besar, seperti New York, Chicago, dan Los Angeles, demo anti-Trump bergulir. Banyak warga Amerika masih belum bisa menerima Trump sebagai presiden. Muncul suara-suara yang mengusulkan penghapusan electoral college. Sebabnya, Hillary unggul hampir 3 juta suara di popular vote, tapi ia kalah di electoral college. Sistem Amerika mengharuskan kandidat unggul di electoral college untuk terpilih sebagai presiden.

Tapi inilah Amerika. Hillary dengan besar hati mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat kepada Trump, dengan pidato yang sangat memikat dan akan dikenang sejarah. Dia, juga kemudian Obama, mengajak rakyat Amerika untuk bersatu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s