Mengkaji Politik Asia Tenggara

Musim semi tahun lalu Departemen Ilmu Politik NIU mengundang Edmund Malesky, ilmuwan politik dalam bidang ekonomi politik internasional dan perbandingan dengan konsentrasi kawasan Asia Tenggara dari Duke University. Selain untuk mengisi seminar yang diadakan Departemen, dia juga diminta untuk mengisi percakapan dengan mahasiswa master dan Ph.D ilmu politik di NIU. Sebuah tradisi yang telah lama dibangun.

Dalam perbincangan itu, secara umum dia bicara tentang bagaimana meletakkan area studies dalam political science, dan sedikit banyak berkaitan dengan proyek Southeast Asia Research Group (SEAREG) yang dikembangkannya bersama gengnya, para ilmuwan politik  di Amerika yang menaruh minat pada studi kawasan Asia Tenggara.

Berikut beberapa poin pandangannya yang berhasil saya catat.

Pertama, distingi antara kuantitatif versus kualitatif, political science versus area studies, sudah tidak lagi relevan. Fokus riset menurutnya mestilah diarahkan ke causal inference atau knowledge accumulation. Karena itu, riset yang baik mestinya merupakan pengujian sebuah teori yang lebih besar. Sementara pilihan negara tertentu hanya sebagai cara menguji kerangka teori itu. Jadi perkembangan politik di Asia Tenggara tidak harus dianggap sebagai kasus unik. Dia mesti ditempatkan dalam kerangka teoretik yang lebih luas.

Kedua, secara metodologis, seorang political scientist tidak harus menguasai semua metodologi. Kekurangan dalam penguasaan metode kuantitatif misalnya bisa disiasati lewat co-authorship. Begitu pun sebaliknya, mahasiswa yang lebih menguasai metode kuantitatif bisa bekerjasama dengan kolega lain bahkan disiplin lain, sejarah misalnya, yang akan memperkaya risetnya dengan data kualitatif. Karena itu pula, dia menyarankan untuk membentuk suatu komunitas atau study group, yang lintas universitas, dengan mahasiswa lain dengan minat yang sama. Mereka adalah partner dalam intellectual career, bukan competitor.

Ketiga, terkait penerbitan, penting untuk mengetahui kelas jurnal dan karakternya masing-masing. Dia menyebut beberapa contoh jurnal kelas satu, dua, tiga, dan seterusnya beserta beberapa karakter singkatnya. Secara teknis, dia menyarankan bahwa halaman pertama artikel yang dikirim harus sebisa mungkin membuat reviewer tertarik. Lalu, paragraf pertama mesti berisi puzzle, answer, dan why we should care about. Juga, dia menyarankan untuk meminta kolega dan teman membaca draf artikel sebelum dikirim ke jurnal.

Keempat, untuk memasuki dunia kerja, perlu membuat CV semenarik mungkin dan memperlihatkan bahwa si sarjana itu ambisius. Rekomendasi perlu memperlihatkan bahwa si sarjana ambisius atau punya motivasi kuat dalam bidang yang menjadi minat dan keahliannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s