Mengkaji Politik Asia Tenggara (2)

21 Oktober lalu Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) NIU mengundang Thomas B. Pepinsky, ilmuwan politik dengan konsentrasi kajian Asia Tenggara dari Cornell University, untuk memberi ceramah di Lecture Series yang diselenggarakan oleh CSEAS. Seperti biasa, setiap kali ada seminar yang mengundang ilmuwan politik, Departemen Ilmu Politik mengadakan bincang-bincang yang menghadirkan sarjana itu dengan mahasiswa master dan Ph.D di Departemen.

Ada beberapa catatan yang saya buat selama perbincangan sembari ngopi pagi itu. Pepinsky pertama-tama menggambarkan bagaimana studi kawasan Asia Tenggara ini diperkenalkan mula-mula sebagai upaya Amerika Serikat untuk menangkal komunisme di kawasan itu. Memperoleh pemahaman yang baik atas kawasan ini menjadi penting bagi pemerintah Amerika untuk merumuskan kebijakan terkait komunisme.

Menurutnya, kajian Asia Tenggara pada mulanya tidak berakar pada satu departemen tertentu. Sebagai sebuah kajian, Asia Tenggara bersifat self contained dan multi-discipline.

Adalah ilmuwan politik yang berupaya memasukkan kecenderungan baru pada studi Asia Tenggara. Ilmuwan politik berupaya melakukan political scientisation dengan memasukkan komponen generality dan pemahaman atas patterns ke dalam studi Asia Tenggara.

Pepinsky mengemukakan dua generasi peneliti yang mengkaji Asia Tenggara. Yang pertama adalah generasi Don Emmerson, yang lebih menekankan detail. Yang kedua adalah generasi baru yang lebih individual dalam belajar dan lebih berorientasi pada metode.

Ada dua perkembangan yang mempengaruhi ilmu politik dan kemudian turut mempengaruhi studi kawasan (area studies). Yang pertama adalah behavioral revolution dan yang kedua adalah rational choice revolution. Kedua tren dalam ilmu politik ini menekankan teori, kualitas data dan penggunaan big data set, serta penekanan pentingnya desain penelitian.

Bagi Pepinsky, membuat teori (to make a theory) sebenarnya adalah menyederhanakan (to simplify). Praktiknya memang tak mudah. Tapi para mahasiswa ilmu politik sesungguhnya dilatih untuk melakukan itu, untuk mengkritik teori dan berlatih merumuskan teori-teori baru.

Karena itu, para pengritik studi kawasan umumnya adalah sarjana ilmu politik dari Amerika. Mereka menekankan pentingnya untuk mengidentifikasi causal mechanism dan melakukan riset yang berorientasi penjelasan atas suatu fenomena (explanatory research). Banyak sarjana studi kawasan di luar Amerika bilang, para sarjana Amerika itu mengambil alih area studies.

Contoh sarjana ilmu politik dengan fokus pada studi kawasan Asia Tenggara adalah Edmund Malesky yang melihat pada detail namun pada saat yang sama menerapkan teori-teori besar. Apa yang dia lakukan adalah sebuah sintesis: studi ilmu politik dengan area studies (Asia Tenggara).

Menurut Pepinsky, tugas sarjana ilmu politik berikutnya adalah professionalisation lewat publikasi. Dalam publikasi, yang paling penting adalah, dia mengutip Adam George, bukan menulis, tapi untuk menuliskan kembali (the job is not to write, but to rewrite).

Pepinsky menyarankan untuk membaca artikel Barry R. Weingast tentang Caltech Rules. Artikel itu berisi tentang bagaimana menulis pendahuluan yang baik. Paragraf pertama harus sudah memperlihatkan puzzle dan jawaban yang ditawarkan oleh artikel yang ditulis. Terakhir, sebelum di-submit, sebaiknya meminta jurnalis untuk mengedit artikel tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s