Pabelan dan Mimpi Amerika (4)

Tulisan ini dimuat dalam buku “Setengah Abad Pondok Pabelan: Perjalanan Meraih Impian.”

Sebelumnya Pabelan dan Mimpi Amerika (1)Pabelan dan Mimpi Amerika (2), dan Pabelan dan Mimpi Amerika (3).

Pabelan dan Kebebasan

Meski para kiai kerap menyebut beberapa contoh alumni dalam nasihatnya, tak ada sedikit pun anggapan bahwa satu profesi lebih baik dari lainnya. Di Pabelan inilah justru saya menemukan kebebasan berpikir dalam arti yang sesungguhnya. Tak ada ideologi yang ditanamkan, juga tak ada doktrin yang dibenamkan dalam pikiran santri. Mereka bisa belajar dan mempelajari apa saja selama di Pabelan.

Ada banyak kegiatan ekstrakurikuler yang bisa diikuti di luar kelas. Selain olahraga dan pramuka, ada teater, musik, bahasa, drumband, jurnalistik, dan lain-lain yang bisa dipilih secara bebas. Para santri bisa memilih kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minatnya tanpa ada batasan berapa pun jumlahnya. Cara ini mendorong para santri untuk menemukan minat dan bakatnya sebaik-baiknya.

Jiwa dan pikiran bebas memang menjadi fondasi pembelajaran. Segera setelah menjadi santri, kami diperkenalkan Panca Jiwa Pondok (Keikhlasan, Kesederhanaan, Ukhuwah Islamiyah, Berdikari, dan Bebas) dan Motto Pondok (Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas, dan Berpikiran Bebas). Bagi saya, Panca Jiwa dan Motto Pondok adalah semangat hidup yang menjadi dasar bagi semua pencarian jati diri dan pengembangan minat selama di Pabelan.

Suasana jiwa bebas dan berpikiran bebas benar-benar saya rasakan di Pabelan. Saat menjadi ketua pengurus Organisasi Pelajar Putra (OPP) Pondok Pabelan, saya bersama-sama para pengurus lain dapat leluasa membuat program kerja untuk kegiatan harian santri. Para kiai hanya memberi arahan dan bimbingan di awal. Dan setelah program kerja selesai kami rapatkan, kiai tinggal memeriksa dan memberikan persetujuan.

Hal serupa saya alami ketika saya menjadi Pemimpin Redaksi Buletin DIALOG. Tidak pernah ada intervensi dari kiai dalam menentukan headline, reportase, dan isi setiap edisi. Tak ada sama sekali arahan apa yang boleh dan tidak boleh. Apalagi sensor, sama sekali tak ada dalam kamus kehidupan di Pabelan. Pengelola buletin dengan leluasa menentukan berita-berita apa saja yang akan dimuat dan artikel-artikel apa saja yang akan diterbitkan.

Saya merasa kiai menganggap bahwa para santri dewasa sudah bisa menilai baik dan buruk, dan memutuskan mana yang positif dan negatif. Di atas semuanya, keleluasaan itu adalah bagian dari jiwa bebas yang menjadi sokoguru pendidikan di Pabelan.

Aktivitas di buletin DIALOG itu adalah salah satu yang membuat saya merasa beruntung bisa nyantri di Pabelan. Sejak SD saya sudah tertarik dengan dunia tulis-menulis. Di Pabelan saya memperoleh lingkungan yang mendukung pengembangan minat itu.

Muhammad Nasiruddin, guru bahasa Indonesia yang menjadi mentor kegiatan jurnalistik santri ketika itu, menjadi inspirasi minat saya itu. Tulisan-tulisannya kerap terbit di harian Republika dan koran Kedaulatan Rakyat. Beliau yang membimbing saya dan teman-teman jurnalis santri di buletin DIALOG, mengajarkan cara menulis yang baik dan benar. Setiap kali terbit edisi DIALOG terbaru, beliau orang pertama yang kami tunjukkan dan beliau selalu senang menerimanya.

Satu waktu beliau cerita, “Ketika saya tunjukkan buletin kalian ke teman-teman saya, mereka bilang ini bagus sekali.” “Padahal,” demikian ujarnya ke koleganya, “Saya tidak banyak intervensi. Mereka berkreativitas dan melakukan improvisasi sendiri.”

Bukti paling nyata dari jiwa dan pikiran bebas saya rasakan pada acara ulang tahun Pondok Pabelan tahun 2000. Di acara dirgahayu pondok terbesar yang saya alami saat masih nyantri itu, saya berkenalan dengan banyak alumni dari berbagai generasi dan daerah. Mereka juga berasal dari berbagai latar belakang profesi, seperti akademisi, pegawai negeri, pengusaha, jurnalis, pekerja seni, hingga aktivis lembaga swadaya masyarakat.

Keragaman alumni jadi bukti bahwa santri bisa menjadi apa saja tergantung minat dan cita-citanya. Karena itu pula, acara ulang tahun pondok itu tak melulu berisi seminar. Sejumlah alumni tampil bermain musik, menyanyi, bahkan melawak. Mereka adalah bukti bahwa Pondok Pabelan menciptakan alumni yang beragam dan mampu berkiprah di masyarakat.

Bagi saya, perjumpaan dengan alumni jadi momentum pemompa semangat. Dalam satu sesi seminar di acara itulah saya jadi mengenal Ali Munhanif yang baru saja menyelesaikan studi masternya di Amerika. Beliau bercerita tentang pengalaman lucunya ketika baru sampai di Amerika dengan bahasa Inggris yang belum lancar. Sayang, waktu itu saya tak sempat berkenalan dan berbicara lebih lanjut dengannya.

Namun, tanpa saya duga saya kemudian bertemu lagi dengannya di UIN Jakarta. Beliaulah di antaranya yang terus memotivasi dan membantu saya untuk memperoleh beasiswa ke Amerika.

Bersambung ke Pabelan dan Mimpi Amerika (5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s