Pabelan dan Mimpi Amerika (5)

Tulisan ini dimuat dalam buku Setengah Abad Pondok Pabelan: Perjalanan Meraih Impian.

Sebelumnya Pabelan dan Mimpi Amerika (1)Pabelan dan Mimpi Amerika (2)Pabelan dan Mimpi Amerika (3), dan Pabelan dan Mimpi Amerika (4).

Kuliah di UIN Jakarta

Selepas tamat dari Pabelan, saya memutuskan kuliah di UIN Jakarta. Kampus ini memang menjadi tujuan utama para santri yang ingin kuliah di luar Yogyakarta. Banyak alumni yang lulus dari UIN Jakarta kemudian menjadi dosen di almamater itu.

Pilihan ke Jakarta sesungguhnya atas dorongan Kiai Muhammad Balya. Ketika menghadap beliau untuk pamit, beliau berpesan “Kalau kamu mau kuliah pilihlah universitas di Jakarta, jangan di Yogya.” Selain memberi contoh alumni lulusan kampus Jakarta yang banyak berkiprah di pentas nasional, beliau mengatakan bahwa Jakarta adalah ibukota yang membuka banyak peluang dan akses informasi. Pesan ini saya ikuti, meski banyak teman seangkatan memilih kuliah di Yogya.

Kiai Balya adalah intelektual Pabelan. Di rumahnya ia memiliki perpustakaan pribadi. Pengetahuannya luas, khususnya pemahamannya terhadap sejarah Indonesia. Itu mengapa saya memilih kelas IPS ketika harus mengambil jurusan di kelas 3 aliyah. Beliau menginspirasi saya untuk mencintai ilmu sejarah.

Saya sering bertemu dengan Kiai Balya di rumahnya untuk sekadar ngobrol dan meminta wejangan. Saya juga kerap mewawancarai beliau untuk keperluan liputan buletin DIALOG. Bertemu dengan Kiai Balya selalu menarik dan memberi energi baru pada motivasi belajar saya. Gaya bicaranya berapi-api, penuh semangat, keyakinan, dan optimisme. Wawasan beliau luas, membuat beliau bisa bicara banyak hal. Beliaulah yang sering kali meladeni wartawan atau mahasiswa yang ingin mencari tahu tentang Pabelan, atau menanyakan respons Pondok Pabelan atas isu-isu tertentu.

Inspirasi dari Kiai Balya pula di antaranya yang mendorong saya mengambil jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI) di UIN Jakarta. Dalam beberapa hal, belajar sejarah seperti melanjutkan bacaan-bacaan yang pernah saya baca ketika di Pabelan. Minat yang tumbuh di Pabelan itu dikembangkan dan diperdalam di UIN Jakarta.

Selain itu, interaksi dengan para dosen lulusan Eropa dan Amerika di jurusan sejarah itulah yang membangkitkan kembali lintasan-lintasan motivasi yang pernah muncul waktu di Pabelan. Perlahan-lahan saya memimpikan untuk dapat melanjutkan studi ke luar negeri. Ditambah lagi, semasa kuliah ini saya aktif di kelompok diskusi bernama Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) di mana banyak aktivisnya yang melanjutkan kuliah ke luar negeri. Motivasi belajar ke Amerika semakin menguat.

Menjelang tamat kuliah, penguji skripsi saya, Dr. Jajat Burhanudin, menawarkan saya untuk menjadi asisten peneliti di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. Ini adalah salah satu lembaga penelitian terkemuka di bawah UIN Jakarta di mana banyak intelektual UIN Jakarta menjadi peneliti utamanya. Saya tak pernah berpikir sebelumnya akan memperoleh kesempatan seperti itu. Yang paling pokok, beraktivitas di lembaga penelitian ini membuat motivasi saya untuk melanjutkan kuliah terus terjaga.

Yang juga tak kalah penting, di lembaga penelitian inilah saya jadi kenal lebih dekat beberapa alumni Pabelan yang sebelumnya hanya saya kenal namanya, baik ketika masih di Pabelan maupun setelah kuliah. Selain Bahtiar Effendy, di PPIM saya bertemu dengan Jamhari Makruf, Ali Munhanif, dan Hendro Prasetyo. Lulus dari UIN Jakarta, mereka menjadi dosen di almamater ini dan menjadi peneliti di PPIM. Pendidikan pascasarjana mereka peroleh dari kampus-kampus di Amerika, Kanada, Eropa, dan Australia.

Nama-nama yang dulu kerap saya dengar lewat wejangan-wejangan Kiai Najib itu, kini jadi senior dan kolega saya di PPIM UIN Jakarta. Mereka terus mendorong saya untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.

*****

Demikiankah, pengalaman-pengalaman selama di Pabelan turut membuka jalan saya untuk melanjutkan studi di Amerika. Tahap ini jadi fase lanjutan dari perjalanan mencari pengetahuan, setelah sebelumnya nyantri di Pabelan lantas kuliah di UIN Jakarta.

Ada satu syair Imam Syafi’i dari pelajaran mahfuzhat di Pabelan yang terus lekat dalam memori: “Merantaulah, kau akan mendapatkan ganti dari kerabat dan kawan yang kau tinggalkan; bekerja keraslah karena manisnya hidup hanya terasa setelah lelah berjuang … Singa tak akan pernah dapat mangsa jika tak meninggalkan sarang; anak panah tak akan pernah mengena sasaran jika tidak meninggalkan busur.”

Para kiai dan guru di Pabelan selalu mengingatkan kami santri-santrinya untuk berani menghadapi hidup, meninggalkan kampung halaman, keluar dari zona nyaman, demi mencari ilmu seluas-luasnya dan setinggi-tingginya. Pesan yang akan selalu saya ingat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s