Anak-anak Semua Bangsa

Tak ada yang membuat haru ketimbang menyaksikan anak-anak tidur lelap di malam hari setelah beraktivitas seharian. Cuaca dingin akhir Desember yang beku membuat suasana menjadi sendu. Di luar, hamparan salju bak permadani putih menutupi permukaan bumi. Inilah suasana musim dingin di bagian tengah Amerika.

Sambil duduk di depan laptop berkutat dengan tugas-tugas kuliah, kerap saya pandangi wajah mereka. Saya tidak tahu apa yang akan mereka ceritakan ke teman-teman atau anak istri mereka kelak ketika mereka dewasa. Apakah mereka akan bersyukur atau menyesal ikut orang tuanya merantau? Adakah mereka bahagia tumbuh bersama ayahnya yang tengah berikhtiar menuntut ilmu?

Tiap kali membaca buku yang berasal dari disertasi saya selalu membuka halaman kata pengantar terlebih dulu. Saya selalu ingin tahu bagaimana penulis mempersembahkan karyanya. Buat saya, halaman persembahan itu semacam behind the scene karya yang sedang saya baca. Di halaman itu, penulis memberi pengakuan dan ucapan terima kasih pada orang-orang yang berperan dan berjasa membuat karya itu lahir. Biasanya, ucapan kepada keluarga terdekat diletakkan di bagian akhir: menunjukkan bagaimana keluarga adalah yang paling penting.

Kini saya mulai paham mengapa keluarga menjadi inti ucapan terima kasih itu. Saya kira tak ada yang pantas memperoleh persembahan sedemikian besar kecuali keluarga: orang tua, istri, dan anak. Merekalah penopang sebenarnya yang membuat seorang mahasiswa menyelesaikan studi dan disertasinya atau seorang akademisi menyelesaikan penelitiannya.

Pada saat yang sama, anak-anak juga turut berkorban demi cita-cita ayahnya menuntut ilmu di Amerika. Kuliah Ph.D. di luar negeri tentunya berimbas pada kehidupan anak-anak. Mereka harus meninggalkan tanah air, teman, lingkungan, pergaulan, dan dunia kanak-kanak yang telah mereka bangun. Di tanah rantau, mereka harus memulai kehidupan yang benar-benar baru: sekolah, para guru, teman, serta budaya dan bahasa yang sama sekali berbeda dari tanah asal mereka.

Pengorbanan lain yang harus mereka terima adalah kurangnya waktu bersama keluarga. Kuliah S3 di Amerika menyita banyak waktu sehingga membuat anak-anak kekurangan waktu bersama dengan keluarga. Pagi hingga sore Billy di sekolah. Malam hari hanya sebentar saya menemaninya untuk mengerjakan PR. Sementara Chalif pagi hingga sore di day care center. Setelah saya jemput sore hari, ia akan menghabiskan waktunya bersama ibunya. Jelang malam saya harus kembali ke ruang belajar. Menghabiskan banyak waktu malam di depan laptop mengerjakan tugas-tugas kelas.

Tapi, kehadiran mereka juga membuat suasana menjadi tidak sepi. Tinggal dan belajar di luar negeri seorang diri tentu akan lebih menyiksa. Tak ada kesendirian yang begitu menyiksa selain kesendirian sebagai mahasiswa pascasarjana di Amerika. Sementara bersama keluarga, suka dan duka bisa dilewati bersama. Kesulitan dalam belajar bisa sejenak terlupakan melihat tawa jenaka anak-anak.

Kini saya bisa merasakan langsung begitu krusialnya peran keluarga dalam studi. Saya juga menyaksikan langsung bagaimana mereka harus berkorban demi ayahnya.

Keterbatasan beasiswa juga menjadi tantangan tersendiri buat mahasiswa yang memiliki keluarga. Mereka harus ikut berhemat dan menyesuaikan diri dengan kondisi beasiswa yang saya terima. Soal ini kadang membuat saya lebih tersentuh. Billy suatu malam jelang tidur pernah berkata kepada ibunya yang kelelahan karena harus bekerja: “Don’t give up, Ma, until the end.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s